MENANTI DENGAN SETIA, SEPERTI PENJAGA KOTA

“Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya.”
(Habakuk 2:4-5)

Ada seorang remaja, ia biasa dipanggil Ata. Setelah lulus SMA, ia ingin melanjutkan kuliah. Ata mencoba mendaftar di beberapa perguruan tinggi dan mulai mengikuti ujian seleksi. Dari sekian banyak pendaftar, ada pendaftar yang menghalalkan segala cara supaya bisa diterima. Sempat terlintas untuk mengikuti cara yang tidak benar, tetapi Ata ingat selalu diajarkan untuk jujur dan mengandalkan Tuhan. Maka ia berkomitmen mengikuti seleksi dengan jujur dan mengandalkan Tuhan. Tangis haru bercampur syukur pun tak terbendung, setelah berjuang dengan segenap kekuatan, akhirnya Ata diterima di salah satu universitas di Surabaya. Dunia kadang seolah tidak adil, orang yang lalim, para penindas, dan orang fasik sepertinya begitu perkasa dan berjaya. Sementara orang benar tertindas, seolah lemah dan tak berdaya, demikianlah yang dilihat oleh Habakuk. Oleh sebab itulah, ia bertanya dan berseru pada Tuhan. Berapa lama lagi, sampai kapan? Mengapa harus bangsa Babel? Mengapa harus dibuang, berada dalam tekanan, ditindas, dan hidup dalam penderitaan? Kemudian dalam kitab Habakuk 2, Tuhan menjawab Habakuk melalui suatu penglihatan, yang memperlihatkan keadaan dan akhir kehidupan orang fasik dan orang benar. Allah menegaskan, orang sombong tidak akan dapat tetap bertahan. Sebab mereka mengandalkan kekuatannya sendiri. Orang fasik akan mendapat celaka dan hukuman (2:6-10). Bahkan kata ‘celaka’ dalam pasal 2 diulang sampai 5 kali: celaka mereka yang menumpuk apa yang bukan miliknya (2:6-8), celaka mereka yang melakukan kecurangan dalam praktik ekonomi, yang menetapkan bunga tinggi sehingga orang miskin tidak bisa lepas dari jerat utang (2:9-11), celaka mereka yang melakukan ketidakadilan, penganiayaan, dan kerja paksa (12-14), celaka mereka yang minum-minuman keras, menghina, dan merendahkan orang lain (15-18), celaka mereka yang menyembah berhala (19-20). Menegaskan bahwa pada waktunya hukuman itu pasti akan menimpa orang-orang fasik. Berbeda dengan orang fasik, orang benar akan hidup oleh percayanya (Hab. 2:4). Kata ini dipakai merujuk pada iman yang ditunjukkan melalui tindakan kesetiaan jangka panjang kepada Allah. Hidup oleh percayanya berarti hidup secara konsisten mengikuti firman dan kehendak Allah, meski keadaan begitu sulit dan tidak adil, bahkan seolah Tuhan diam dan tidak bertindak. Meski segalanya tampak gelap, orang benar harus hidup dan bertahan karena iman kepada Allah yang adil, berkuasa atas sejarah, berdaulat, dan bertakhta di tempat kudus-Nya.

Doa dan Komitmen: Tuhan, apa pun situasi dan keadaan yang sedang kami hadapi, tolong kami agar tetap hidup beriman kepada Allah, dan selalu mengikuti firman dan kehendak-Mu. (Mas Git)

Bacaan Alkitab
1 Samuel 9-12