MENANTI DENGAN SETIA, SEPERTI PENJAGA KOTA
“Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.”
(Habakuk 1:2-4)
Pernahkah dalam pergumulan yang Anda alami, Anda tidak menemukan jawabannya? Anda sudah bergumul dan berdoa, namun seolah tidak kunjung menemukan jawabannya. Begitu banyak pertanyaan yang kemudian muncul dalam hati dan pikiran Anda. Anda merasa seolah-olah Tuhan diam, dan tidak melakukan sesuatu. Perlu diingat, bahwa dalam kehidupan ini memang penuh dengan berbagai pertanyaan. Kadang kita bisa menemukan jawabannya, namun sering kali kita tidak menemukan jawabannya. Karena itu, kadang kita bisa mengeluh, kecewa, bahkan marah. Nabi Habakuk juga pernah mengalami pergumulan dan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan. Pertanyaan yang diajukan Habakuk ialah mengapa Tuhan seolah membiarkan kelaliman dan kejahatan, hukum Taurat diabaikan dan para pemimpin melakukan hal yang jahat? Ia berseru: “Sampai berapa lama Tuhan? Tunjukkan kuasa-Mu, dan lakukan sesuatu!” Namun, keadaan tidak berubah, bahkan justru semakin memburuk. Kejahatan dan kelaliman semakin merajalela. Jika kita berada di posisi Habakuk, apa yang akan kita lakukan? Kecewa, marah, ngambek, atau protes kepada Tuhan? Dalam hal inilah Habakuk belajar untuk menanti dengan setia jawaban dan pertolongan Tuhan. Seperti seorang penjaga dan pengawas kota, yang siaga berjaga-jaga siang dan malam (Hab. 2:1). Apa pelajaran pentingnya bagi kita? Apapun yang sedang kita alami, jangan pernah kehilangan harapan kepada Tuhan. Meski kadangada hari-hari di mana mungkin doa terasa seperti menghilang. Hari-hari di mana kita bertanya-tanya apakah Allah mendengarnya? Apalah Allah akan menjawabnya? Namun di dalam keheningan, percayalah Allah selalu dekat dalam hidup kita. Dalam penantian yang panjang, mari belajar percaya, bahwa Allah sedang membuka jalan. Seperti pernyataan Pemazmur, yang harus dilakukan ialah: berdiam diri di hadapan Tuhan, menantikan Tuhan, dan tetap mengikuti jalan-Nya (Maz. 37:7, 34).
Doa dan komitmen: Meski jalan di hadapan kami tertutup kabut tebal, tuntun kami ya Tuhan, agar tetap menanti dan mengikuti jalan-Mu. (Mas Git)
Bacaan Alkitab
1 Samuel 1-3
