TUHAN YANG MEMANGGIL, TUHAN YANG MENYERTAI
“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”
(Yosua 1:9)
Yosua Tuhan bangkitkan di tengah krisis pemimpin bangsa Israel sesudah Musa mati. Pada masa itu Allah sendiri yang memilih dan menetapkan pemimpin bagi bangsa Israel. Menariknya cerita panggilan Yosua ini sudah Allah persiapkan dari lama (Lihat Kel 17:13-14; Kel 24:13; Bilangan 27:18, 22–23; Ulangan 31:7, 23; dll). Kata “Hamba” dalam bahasa Ibrani yang memiliki arti seorang budak, pelayan, dan juga pengikut yang setia. Jadi sebutan seorang “Hamba” kepada Yosua dan Musa dapat diartikan sebagai pelayan yang setia. Kata Hamba ini kaitannya dengan umat Tuhan yang adalah orang-orang yang punya hubungan perjanjian dengan Allah dan menjadi umat yang setia pada-Nya. Jadi, Yosua dipanggil untuk memimpin atau untuk menjadi pelayan yang setia, taat, dan bergantung kepada Tuhan dalam menuntun umat Tuhan. Singkat cerita selama proses panggilan itu Tuhan mengulang 3 kali perintah utama tentang “kuat dan teguhkan hati” dalam panggilan Yosua.
Konteks perjanjian baru panggilan untuk kuat dan teguhkan hati dapat ditemukan dalam Kristus. Lalu apa guna kuat dan teguhkan hati dalam hidup yang dimerdekakan dalam Kristus? Pertama, hati yang kuat dan teguh adalah kekuatan rohani untuk tidak bereaksi dengan penolakan orang lain, tapi tetap merangkul sesama dalam kasih. Kedua, hati yang kuat dan teguh adalah dorongan diri untuk punya kerelaan hati (keberanian spiritual) untuk dikoreksi dan bertumbuh di dalam Tuhan. Ketiga, sikap hati yang kuat dan teguh adalah kepekaan diri untuk tidak mengabaikan dan berfokus kepada diri sendiri. Kita meneguhkan hati dan rela hadir untuk peduli kepada sesama kita yang bergumul, meskipun kita tidak mendapatkan perlakuan yang kurang baik. Maka seruan Tuhan “kuatkan dan teguhkan hati” kepada Yosua juga menjadi panggilan bagi kita setiap orang percaya. Meskipun konteks kehidupan Yosua berbeda, akan tetapi ini mengajarkan kita untuk menjadi komunitas orang percaya dalam Kristus yang teguh hati untuk tidak dipenuhi dengan ego dan pencitraan, namun menjadi saluran kasih, punya kerelaan hati, dan tidak berfokus pada diri sendiri.
Doa: Tuhan yang Maha baik, ku bersyukur karena Engkau telah memanggil dan juga menyertai aku dalam setiap langkah ku. Kuatkan dan teguhkan hati ku supaya hidup ku menjadi bagian dari komunitas orang yang merdeka dalam Kristus, yang ramah, terbuka, dan peduli kepada sesama ku dengan memberikan kasih-Mu, Amin. (Isai)
Bacaan Alkitab
Mazmur 69-72
