KORELASI: PERENCANAAN & ALLAH (1)

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu. “Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. (Yakobus 4:15-17)

Hari ini saya ingin sedikit merujuk perenungan kita di hari Minggu, bahwa Yakobus 4:13 & 15 sama² membicarakan soal   perencanaan. Hanya saja yang membedakan keduanya hanya satu, melibatkan TUHAN dalam perencanaan. Sebenarnya peranan TUHAN itu sejauh apa sih dalam perencanaan kita?

Mungkin kita akan jauh lebih mudah untuk melibatkan TUHAN dalam perencanaan kita, kalau pimpinan-Nya dinyatakan secara Audible & Visionable, sehingga setiap pertimbangan yang diberikan lebih meyakinkan kita – apalagi hal ini untuk hari esok/ masa depan/ future di mana nggak ada di antara kita yang mengetahuinya.

ATAU, kita tidak melibatkan TUHAN karena kita selalu menganggap bahwa perencanaan adalah wilayah kita, tanggung jawab kita (Human Responsibility) – perkara TUHAN memberikan pencapaian nantinya terhadap perencanaan kita itu urusan-Nya. Jadi seakan, antara rancana kita dan apa yang menjadi kemauan TUHAN terhadap pencapaian kita – itu tidak ada kaitannya/ korelasi-nya. Masing²!

ATAU, kita tidak melibatkan TUHAN dalam perencanaan kita karena ya memang kita tidak mempercayakan/ mempercayai-Nya; kita dengan segala keangkuhan, kesombongan & kecongkakan merasa mampu & sanggup mengarahkan diri kita pada sebuah tujuan atau pencapaian. Itulah yang diingatkan & ditegor oleh Yakobus di dalam suratnya ini.

Bagaimana dengan kita? Mungkin dalam rencana² Besar, yang kita anggap penting, bahkan memberi pengaruh dalam hal hidup & mati kita, kita merasa penting & harus melibatkan TUHAN. Lalu bagaimana dengan hal yang hari² kita kerjakan, bahkan sesuatu yang nampaknya begitu rutin – tetapi selalu melibatkan rencana² kecil & sederhana: mau ke sini, mau ke sana, makan apa, makan di mana, dengan siapa dan lain sebagainya; jadikanlah itu sebagai sebuah rencana yang akan kita kerjakan di hari itu, di minggu itu atau di bulan itu (yang pada hakekatnya selalu bersifat future/ akan datang) yang “proposal-nya” kita bawa di hadapan TUHAN, melibatkan-Nya, agar semua sesuai & seturut dengan kehendak-Nya. Dengan demikian,  kita selalu melihat, antara perencanaan kita dan TUHAN itu selalu ber-KORELASI. (JP)

Bacaan Alkitab
Mazmur 119