KORELASI: PERENCANAAN & ALLAH (2)
Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. (Yakobus 4:15-17)
Sekali lagi kita merujuk Minggu tentang hal penting yang dapat kita renungkan dari ayat 15 tersebut sebagai berikut:
- Dalam perkataan Jika TUHAN menghendakinya, dapat diartikan atau memberikan indikasi bahwa dalam sebuah perencanaan sangat penting untuk melibatkan TUHAN.
- Hanya TUHAN-lah yang mampu menjawab pernyataan & pertanyaan yang muncul di ayat 14 (sebagai jembatan transisi ayat 13 ke 15); siapa yang menguasai hari esok & memberikan makna hidup dalam kehidupan yang sekejap ini – yang digambarkan seperti uap.
- Sebagai titik temu antara tanggung jawab manusia (Human Responsibility) yang merencanakan, dan Kedaulatan Allah (GOD Sovereignty) – dalam perkataan Jika TUHAN menghendakinya.
Kita sudah diingatkan bahwa perencanaan itu PENTING; dan yang tidak kalah pentingnya dalam perencanaan yang penting itu adalah melibatkan TUHAN; karena kalau tidak, maka apa yang menjadi segala perencanaan itu akan menjadi sia²/tidak dapat diwujudkan jikalau TUHAN Sang Penguasa hari esok itu tidak menghendakinya.
Korelasi antara perencanaan dengan TUHAN bukan sekedar terkait pada tingkat keberhasilan mencapai tujuannya semata, tetapi juga membawa pengaruh yang besar terhadap bagaimana caranya untuk mewujudkan/ mengerjakan rencana itu – yang harus selaras dengan nilai² kebenaran-Nya. Akan sangat nggak masuk akal, atau bahkan sangat aneh bila kita memiliki sebuah rencana & selalu melibatkan TUHAN untuk memberi hikmat agar apa yang menjadi tujuan dari perencanaan itu berhasil, namun kita melakukannya dengan cara² yang tidak benar, dengan cara² yang bertentangan dengan kehendak-Nya, dengan cara² seperti cara dunia yang berdosa. Mungkin pencapaiannya berhasil, tetapi dengan cara yang salah maka nama/pihak TUHAN yang katanya disertakan hanyalah nama yang dicatut/dipakai sebagai alasan untuk mendapatkan dukungan/ keuntungan pribadi yang didapat dari pihak lain saja. Masalahnya, kalau kita gagal untuk mencapai tujuan perencanaan tersebut, maka gampang pula memakai nama TUHAN untuk disalahkan – atau kita akan berkelit & berdalih: “TUHAN TIDAK menghendakinya”.
Refleksi:
- Menurut anda, bagaimanakah cara kerja TUHAN dalam perencanaan anda?
- Menurut anda, bagaimanakah cara anda mewujudkan/mengerjakan rencana anda untuk mencapai tujuan?
- Pentingkah sebuah korelasi antara rencana anda dengan TUHAN? (JP)
Bacaan Alkitab
Mazmur 120-122
