AUSNYA NILAI KEBENARAN

“Kalian sabar dan kalian menderita karena Aku, dan kalian tidak putus asa.
Tetapi ini keberatan-Ku terhadapmu: Kalian tidak lagi mengasihi Aku seperti semula”
(Wahyu 2:3-4. BIS)

Bacaan: Wahyu 2:1-7

“Cinta yang Aus” Selamat memasuki bulan Oktober. Sepanjang bulan ini, renungan gembala dan juga khotbah-khotbah mimbar GKA Zion Bali akan membahas secara khusus keberadaan tujuh jemaat gereja yang tertulis di dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3. Kita akan belajar bagaimana perkembangan gereja mula-mula di tengah tantangan zaman pada waktu itu yang dapat menjadi berkat bagi gereja di saat ini. Bulan Oktober ini (tanggal 31), di dalam agenda kalender gerejawi, kita memperingati hari Reformasi, yang mengajak gereja untuk kembali kepada kebenaran Alkitab (back to Bible) serta semangat untuk mempraktekkan kebenaran Injil.

Sepanjang Minggu pertama ini kita akan belajar dari gereja Efesus, yang tertulis dalam Wahyu 2:1-7. Sekalipun jemaat di Efesus mendapat pujian akan ketekunan dan keberanian mereka melawan ajaran sesat, namun mereka juga mendapat kritikan (keberatan) dari Kristus, yang empunya gereja, karena mereka telah meninggalkan kasih mula-mula, yaitu kemurnian hati untuk mengasihi Kristus. Kasih mula-mula yang aus telah bergeser kepada pemenuhan dan pemuasan pikiran, sehingga kasih Kristus tidak lagi menguasai hidup (hati dan pikiran) mereka.

Cinta pertama yang menjadi ciri jemaat Efesus adalah semangat mereka ketika mereka menyadari bahwa mereka mengasihi Kristus karena Kristus terlebih dahulu mengasihi mereka, dan bahwa pada kenyataannya, kasih Kristus kepada mereka telah membuat mereka dapat “hidup bersama dengan Kristus” Yesus memuji jemaat Efesus atas banyaknya pekerjaan baik dan kerja keras mereka, misalnya menguji para pengajar untuk melihat apakah pengakuan mereka benar sesuai Injil, mereka juga kuat dalam menanggung kesulitan dan bertekun tanpa menjadi lelah. Namun ironisnya mereka telah kehilangan kehangatan dan cinta mereka kepada Kristus, dan ketika itu terjadi, mereka mulai menjalani rutinitas pekerjaan dan perbuatan pelayanan, yang dimotivasi bukan lagi oleh kasih dan bagi Kristus, melainkan oleh pemuasan ego sendiri.

Ausnya kasih kepada Kristus menjadikan gereja kehilangan nafas sejatinya, yaitu menghidupi Injil dan berganti dengan hidup dalam legalitas. Kita harus kembali mengasihi Tuhan dalam hidup kita. Tindakan kita harus didasari oleh luapan kasih Kristus, dan bukan sekadar sebuah kewajiban.

Doa: Tuhan Yesus, selidiki dan ampunilah kami agar pelayanan yang kami lakukan adalah karena kasih kepada-Mu, bukan karena ego kami, amin. (gian).

Bacaan Alkitab
Ezra 9-10