SIAPA BERTELINGA, HENDAKLAH IA MENDENGAR

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”
(Wahyu 2:29)

Kita hidup di tengah dunia yang penuh dengan suara. Ada suara media sosial, iklan, hiburan, bahkan suara dari dalam diri sendiri yang berkata, “Ikuti kata hatimu.” Namun sering kali, semakin banyak suara yang kita dengar, semakin sulit bagi kita untuk benar-benar mendengar suara yang paling penting yaitu suara Tuhan. Banyak orang Kristen rajin hadir di gereja, tapi hatinya lebih dipenuhi dengan suara dunia daripada suara Roh Kudus. Karena itu, Yesus menutup pesannya kepada jemaat Pergamus dan Tiatira dengan kalimat yang sama: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” Teguran, janji, dan penghiburan tadi hanya akan berarti jika benar-benar didengarkan dan ditaati. Ungkapan “siapa bertelinga” bukan sekadar bicara soal telinga fisik. Semua orang punya telinga, tapi tidak semua mau mendengar. Dalam bahasa Alkitab, mendengar berarti lebih dari sekadar menerima informasi; mendengar berarti memperhatikan, memahami, dan menaati.

Pesan Yesus ini muncul berulang kali dalam setiap surat kepada tujuh jemaat. Artinya, bagi Yesus, masalah utama jemaat bukan kurang firman, melainkan kurang ketaatan. Jemaat Pergamus sudah mendengar firman, tetapi tetap berkompromi dengan ajaran Bileam dan Nikolaus. Jemaat Tiatira sudah tahu kebenaran, tetapi membiarkan pengaruh nabiah palsu meracuni kehidupan mereka. Jadi persoalannya bukan “apakah mereka tahu,” melainkan “apakah mereka mau taat.”

Kalimat ini juga mengingatkan pada perumpamaan Yesus dalam Injil, ketika Ia berkata: “Siapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Markus 4:9). Dalam perumpamaan itu, Yesus menyinggung kondisi tanah hati manusia. Ada hati yang keras, ada yang dangkal, ada yang penuh semak, dan ada yang subur. Firman yang sama bisa jatuh, tetapi hasilnya berbeda tergantung bagaimana kita mendengar.

Dengan kata lain, Yesus ingin setiap jemaat menguji diri: selama ini, kita benar-benar mendengarkan suara siapa? Hari ini pun tantangan kita sama. Kita bisa mendengar khotbah setiap minggu, membaca renungan setiap hari, bahkan mendengarkan lagu rohani setiap saat. Tetapi kalau hati kita tidak terbuka untuk taat, semua itu hanya jadi “suara” di telinga. Firman Tuhan mengingatkan bahwa mendengar suara Roh berarti: Tidak hanya menyimpan firman dalam pikiran, tetapi membiarkannya mengubah keputusan sehari-hari. Tidak hanya membaca Alkitab sebagai rutinitas, tetapi mencari apa yang Tuhan mau kita lakukan melalui firman itu. Tidak hanya mendengar teguran, tetapi berani bertobat dan berubah arah.

Dunia akan terus memekakkan telinga kita dengan suara-suara yang meninabobokan iman. Tetapi suara Tuhan tetap berkata dengan jelas: “Tetap setia. Jangan kompromi. Aku segera datang.” Pertanyaannya: telinga kita peka ke arah mana?

Doa: “Tuhan, berikan aku telinga yang mau mendengar suara-Mu, hati yang taat pada firman-Mu, dan keberanian untuk hidup sesuai kehendak-Mu. Jangan biarkan aku tuli terhadap Roh-Mu, tetapi ajari aku setia mendengar dan melakukan. Amin.” (mpn)

Bacaan Alkitab
Ayub 9-11