PENCOBAAN ADALAH SEBUAH REALITAS
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
(1 Korintus 10:13)
Tidak ada orang yang senang terhadap kesulitan, penderitaan, atau cobaan dalam hidupnya. Bahkan tidak ada seorang pun yang berharap atau menginginkan mengalaminya. Pada umumnya semua orang lebih senang menghindari kesulitan atau penderitaan. Bahkan, jika mungkin semua orang berharap agar tidak mengalaminya. Akan tetapi, pencobaan atau penderitaan itu seperti kunjungan dari tamu yang tidak diundang. Bisa datang tiba-tiba dan tidak terduga. Seorang penulis bernama Paul David Tripp menjelaskan, bahwa penderitaan itu tidak pernah abstrak, teoritis, atau sama bagi semua orang. Penderitaan itu nyata, dapat dirasakan, bersifat pribadi, dan spesifik. Penderitaan pasti akan memasuki pintu semua orang dengan cara tertentu, kadang kita bisa punya firasat kedatangannya, akan tetapi kadang datang secara tiba-tiba. Jauh sebelum David Tripp, seorang rasul bernama Paulus telah menegaskan realitas tersebut dalam suratnya kepada jemaat di Korintus.
Kalimat “pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa”, cobaan yang lazim dialami manusia (BIMK), pacoban-pacoban kang lumrah (lumrah: umum, biasa, lazim, wajar – terjemahan Jawa), yang menegaskan bahwa cobaan hidup (entah sakit, masalah keluarga, kesulitan, penderitaan, dll) adalah realitas yang akan kita hadapi di dunia yang telah begitu rusak karena dosa. Paul David Tripp menjabarkan, dunia yang rusak karena dosa ialah dunia yang penuh kesakitan, tubuh menjadi rusak dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Rasa sakit yang kronis dan akut menyerang, dan membuat hidup hampir tak mampu dijalani. Kita tinggal di dunia yang rusak, di mana orang-orang meninggal, makanan membusuk, perang merebak, ada orang yang korup, mengambil yang bukan miliknya, melakukan kekerasan satu dengan yang lainnya, pasangan saling membenci, anak-anak dilecehkan, banyak orang mati kelaparan, ada kebingungan seksual dan gender, kecanduan dan kehancuran karena obat terlarang, gossip, hati dikuasai hawa nafsu dan ketamakan, kepahitan menjalar seperti kanker, dan masih banyak lagi. Itulah realitas dunia di mana kita hidup.
Dalam konteks jemaat Korintus, mereka hidup disebuah kota metropolitan yang sarat dengan keangkuhan, pesta pora, penyembahan berhala, percabulan, kehidupan amoralitas, segala bentuk dosa yang dianggap biasa. Paulus mengingatkan jemaat Korintus dan orang Kristen masa kini akan natur dunia tempat tinggal kita ini. Sekaligus mempersiapkan orang Kristen untuk menghadapi dan menjalaninya dengan penuh kewaspadaan, tetap berpengharapan, dan beriman kepada Tuhan. Pengharapan dan iman yang berakar pada kesetiaan Allah, bahwa Ia bersama kita dan tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian.
Refleksi: Melihat realitas dunia yang begitu rusak, mari mengingat nasihat di dalam Amsal 4:23 yang mengingatkan kita agar senantiasa menjaga hati dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah akan terpancar kehidupan. (Mas Git)
Bacaan Alkitab
Amsal 27-28
