PENDERITAAN MENGHASILKAN KEBAIKAN
DALAM DIRI KITA

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.
(Yakobus 1:2-4)

Jika ada yang bertanya: “Apakah liburan ke Jepang atau Singapura itu menyenangkan?” Sepertinya banyak orang yang akan menjawab: “ya, benar, sangat menyenangkan.” Bahkan sebagian dari kita mungkin juga akan setuju kalau liburan itu merupakan hal yang sangat menyenangkan. Akan tetapi, mungkin akan sangat berbeda jika ada yang bertanya: “Apakah Anda bisa merasa senang dan bahagia ketika menghadapi pencobaan, mengalami sakit, bangkrut, atau waktu menderita? Sepertinya semua orang akan menjawab: “Tidak.” Karena pada umumnya tidak ada seorangpun yang menginginkan sakit, bangkrut, mengalami kecelakaan, dan hal-hal buruk dalam hidupnya.

Menariknya, dalam surat Yakobus, menyatakan hal yang berlawanan. Yakobus mengatakan: “anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Perlu dicatat, Yakobus menulis surat ini ditujukan untuk kedua belas suku di perantauan yang tersebar di berbagai daerah. Pada masa itu kekristenan sedang menghadapi penganiayaan dan berbagai kesulitan. Kita biasanya tidak mengalami sukacita dalam penderitaan, justru kebanyakan dari kita kehilangan sukacita. Tetapi jangan salah memahami kalimat yang disampaikan Yakobus, sebab ia tidak sedang berkata bahwa kita harus bersukacita karena rasa sakit, kebangkrutan, atau kesedihan karena kehilangan. Apa yang Yakobus maksudkan ialah bahwa sebagai orang percaya, kita punya alasan untuk bersukacita di tengah kesusahan ataupun penderitaan yang sedang kita alami. Sebab, Allah memiliki tujuan yang indah, yaitu memakai penderitaan yang sedang kita alami untuk kebaikan dalam diri kita.

Paul David Tripp menjelaskan bahwa di tangan Allah, penderitan adalah sebuah alat  yang penuh kuasa untuk menghasilkan pertumbuhan dan transformasi pribadi. Penderitan di tangan Allah digunakan untuk memenuhi Anda, untuk menumbuhkan diri Anda, dan untuk menyelesaikan karya Allah dalam diri Anda. Menumbuhkan apa? Menumbuhkan ketekunan dalam diri orang percaya. Kata ketekunan dalam bahasa aslinya berarti ketegunan, konsistensi, atau bisa berarti daya tahan. Jadi, melalui penganiayaan dan kesulitan yang dialami orang percaya, Allah ingin membentuk orang percaya agar menjadi pribadi yang tangguh dan konsisten. Dalam semangat kasih yang menebus, Allah menggunakan kesukaran untuk menghasilkan hati yang lembut namun kokoh. Selain itu, yang juga sangat penting adalah supaya kehidupan orang percaya semakin mengalami transformasi dan keserupaan dengan Kristus.

Refleksi: Jika saat ini kita sedang berada dalam lembah penderitaan, jangan hanyut dan tenggelam dalam kekelaman; tetaplah bersukacita, sebab ada tangan Tuhan yang menopang. (Mas Git)

Bacaan Alkitab
Pengkhotbah 1-3