PENDERITAAN MEMPERSIAPKAN KITA UNTUK
DIPAKAI OLEH ALLAH

Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.
(2 Korintus 1:3-6)

Pencobaan, kesukaran, dan berbagai penderitaan bagi sebagian orang dipandang sebagai momok, yang begitu menakutkan. Sebab bisa melumpuhkan begitu banyak hal dalam hidup seseorang. Berbagai pencobaan ataupun penderitaan bisa membuat seseorang menjadi marah terhadap diri sendiri, orang lain, bahkan kepada Tuhan. Bagi yang lain, pencobaan ataupun penderitaan bisa membuat stress, frustasi, merarik diri dari lingkungan, bisa memengaruhi kesehatan mental maupun spiritual, dan bahkan bisa menyebabkan depresi. Jadi, jika sedang dalam penderitaan, kesukaran atau pencobaan yang berat, jangan meremehkannya.

Jika kita adalah anak Allah, maka seharusnya kita memiliki prinsip dan cara pandang yang berbeda ketika mengalami berbagai pencobaan, kesulitan, maupun penderitaan. Sebab, sebagai orang yang telah mengalami penebusan di dalam Kristus, kita dipanggil untuk hidup bagi Allah, bukan lagi melayani diri sendiri. Kebenaran inilah yang dipahami oleh rasul Paulus, ketika ia berkata: kita telah mati bagi dosa, dan harus hidup bagi Allah (Rm. 6:11), dan menegaskan dalam Galatia 2:20 bahwa hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalamku. Menurut Paul David Tripp, itu berarti kita dipanggil untuk menjadi bagian dari apa yang sedang dilakukan Allah, dalam kehidupan mereka yang ada disekitar kita. Allah menggunakan penderitaan sebagai salah satu cara untuk membentuk, mempersiapkan, membuat kita bersedia dan siap menjadi bagian yang sedang dikerjakan-Nya dalam kehidupan orang lain.

Di dalam hikmat Allah, Paulus dimampukan oleh Tuhan untuk menangkap maksud dan tujuan dari segala penderitaan yang ia alami. Dalam penderitaannya, Paulus mengalami penghiburan dari Allah, agar ia siap untuk dipakai Allah menjadi agen penghiburan-Nya dalam kehidupan orang lain. Paulus mengalami kesulitan yang berat, kelaparan, kedinginan, penganiayaan, dan kelemahan, tetapi mendapat kekuatan dari Tuhan, agar ia siap dipakai Allah untuk menguatkan orang lain. Paul David Tripp menjelaskan bahwa penderitaan kita memiliki tujuan pelayanan, yaitu dimaksudkan bukan untuk membuat kita menarik diri, tetapi untuk memimpin kita keluar dan memberitakan kepada orang lain keindahan pengharapan, penghiburan, keamanan, damai sejahtera dan keselamatan yang diberikan Allah pada kita.

Refleksi: Adakah kisah-kisah pengiburan, pertolongan, penyertaan, pimpinan Tuhan dan keselamatan dari Tuhan dalam masa-masa penderitaan, yang sudah kita bagikan kepada orang lain? (Mas Git)

Bacaan Alkitab
Pengkhotbah 4-6