KEHILANGAN NAMUN TIDAK “KEHILANGAN”
²⁰Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, ²¹katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” ²²Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
(Ayub 1)
⁷Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya. ⁸Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu. ⁹Maka berkatalah istrinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” ¹⁰Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
(Ayub 2)
Bila kita menyoroti tema kita di minggu ini dengan mengangkat topik JANGAN KEHILANGAN IMAN maka sejenak kita akan melihat kembali masalah kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayub, yang sangka si iblis itu akan “menghilangkan iman” Ayub kepada Allah.
Mari kita lihat sejenak Sinopsis tema/topik di atas, sebagai berikut:
Kehilangan, siapa yang tidak pernah mengalaminya? Kehilangan hal-hal atau sesuatu yang berharga merupakan suatu hal yang bukan hanya menakutkan, tetapi juga menyakitkan dan menyesakkan. Menurut Henri Nouwen satu kata yang merangkum seluruh rasa sakit, kepedihan, dan kesengsaraan yang dialami manusia ialah ‘kehilangan’. Ketika mengalami rasa sakit, kepedihan, dan kesengsaraan karena kehilangan yang selalu menjadi pertanyaan adalah: apakah semua itu membuat kita kecewa, marah, atau justru semakin mendekat kepada-Nya? Apakah membuat kita semakin menjauh dari Tuhan, atau justru semakin mengasihi serta bergantung kepada-Nya?
Kisah hidup Ayub merupakan gambaran proses pembelajaran perjalanan iman bagi setiap orang percaya. Ketika Ayub mengalami begitu banyak kehilangan yang begitu menyesakkan, ia tidak kehilangan pegangan hidup. Sikap dan pernyataan Ayub di ayat 20-21 menunjukkan/ membuktikan bahwa keterhilangan tidak membuat iman Ayub kepada Allah luntur atau berubah. Ia tetap teguh beriman kepada Allah yang berdaulat. Pernyatan tersebut juga menunjukkan bahwa Ayub mengasihi Allah lebih dari segalanya. Perlu diketahui, bahwa beriman bukan berarti hidup tanpa kesulitan, masalah, pergumulan, atau cobaan hidup, justru iman bertumbuh bahkan akan teruji melalui berbagai kesulitan, masalah, cobaan, dan pergumulan hidup.
Itu sebabnya perenungan hari ini seharusnya boleh disebut sebagai counter terhadap dugaan si iblis tentang sikap Ayub. Ayub boleh mengalami kehilangan demi kehilangan, namun sesungguhnya Ayun tidak pernah mengalami kehilangan Iman-nya.
PA Pribadi:
- Berdasarkan bacaan kita di Ayub 1-2 (bahkan silahkan lihat pasal & ayat lain), kehilangan dalam hal apa saja yang dialami oleh Ayub? Pernahkah kita mengalami kehilangan? Walaupun tidak se-dahsyat Ayub, bagaimana perasaan kita? Bagaimana menghadapinya?
- Ayub 1:22 & Ayub 2:10b merupakan penilaian Alkitab tentang sikap & tanggapan (reaksi & respons) Ayub. Menurut kita seberapa besar kemungkinan seseorang bisa kehilangan iman tatkala menghadapi pergumulan yang super berat? Kalau itu terjadi atau tidak terjadi karena faktor apa? Secara pribadi, kita kira² berada di posisi mana?
- Besok kita akan membahas happy ending-nya kisah Ayub. Apakah happy ending juga menjadi orientasi, motivasi & obsesi untuk tetap menjalani hidup dengan tetap berpegang teguh dalam iman kepada Allah di dalam Yesus Kristus?
TUHAN YESUS memberkati kita sekalian. (jp)
Bacaan Alkitab
Yesaya 21-23
