MEMELIHARA HARMONI DENGAN KARAKTER KRISTUS
Sebab itu, aku, seorang tahanan karena Tuhan, menasihatkan kamu, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera:
(Efesus 4:1–3)
Jemaat di Efesus adalah buah dari pelayanan misi ketiga rasul Paulus (lih. Kisah Para Rasul 19). Jemaat Efesus terdiri dari: orang Yahudi, orang non-Yahudi (bangsa-bangsa lain), budak dan orang merdeka, berbagai kelas sosial dan budaya. Sehingga bisa dikatakan bahwa dari awal mereka adalah komunitas yang sangat beragam. Dan uniknya adalah sekalipun jemaat Efesus sangat beragam, tidak ditemukan indikasi perselisihan yang tajam seperti yang terjadi di jemaat Korintus. Tetapi sekalipun demikian, rasul Paulus tetap menasehatkan jemaat supaya tetap memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera.
Nasihat Paulus ini menunjukkan satu hal penting: kesatuan jemaat Efesus bukan sesuatu yang otomatis bertahan dengan sendirinya. Walaupun mereka tidak sedang berkonflik, Paulus tahu bahwa keberagaman selalu membawa potensi gesekan. Karena itu ia tidak berkata “ciptakan kesatuan,” melainkan “peliharalah kesatuan.” Artinya, kesatuan sudah lebih dulu dikerjakan oleh Kristus, tetapi harus dijaga dengan karakter Kristus.
Paulus lalu menyebutkan sikap-sikap yang sangat praktis: rendah hati, lemah lembut, sabar, dan saling menolong dalam kasih. Ini bukan strategi organisasi, melainkan pembentukan hati. Harmoni gereja tidak ditentukan oleh banyaknya program, tetapi oleh kedewasaan karakter anggotanya. Tanpa kerendahan hati, perbedaan menjadi persaingan. Tanpa kesabaran, perbedaan menjadi pertengkaran. Tanpa kasih, perbedaan menjadi perpecahan.
Bagi kita hari ini, pesan ini sangat relevan. Gereja bisa penuh talenta, tetapi tanpa karakter Kristus, pelayanan mudah retak. Sebaliknya, ketika setiap anggota belajar rendah hati dan saling menopang, gereja menjadi kuat dan menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia.
Refleksi:
Apakah kehadiran saya di gereja membawa damai atau justru menambah gesekan?
Doa: Tuhan, bentuklah karakter Kristus dalam diriku, supaya aku bukan hanya bagian dari tubuh-Mu, tetapi juga penjaga kesatuan-Mu. Amin. (Jho)
Bacaan Alkitab
Yohanes 1-3
