NASIB DI TANGAN SAYA
¹²”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. ¹³Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; ¹⁴karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”
(Matius 7)
³⁷Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. ³⁸Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. ³⁹Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. ⁴⁰Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
(Matius 22)
Mungkin kita pernah mendengar tentang sebutan yang diberikan kepada ayat di Matius 7:12 ini, ya dikenal sebagai The Golden Rule, yang mengajarkan kepada kita sebuah kebenaran yang bersifat universal, yang dianggap melintasi banyak wilayah: wilayah agama, wilayah budaya dan wilayah moralitas, yakni dengan cara memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Ada beberapa hal yang cukup menarik untuk dikaji dari perkataan tersebut, misalnya:
- Kita bisa terjebak untuk memaknai firman Tuhan ini bersifat transaksional karena nuansa itu terasa sangat kental sekali. Apa yang kita terima sesuai/ sama dengan apa yang kita perbuat. Kita terima yang jahat kalau kita melakukan yang jahat; kita terima yang baik kalau melakukan yang baik. Bila kita menerima pemahaman ini mentah², maka kita akan setuju dengan pendapat kelompok eksistensialis bahwa apa yang akan terjadi dalam diri kita tergantung pada cara kita berupaya dan melakukan sesuatu. Itu menjadi pilihan kita untuk bertindak, sekaligus bertanggung jawab penuh untuk menerima segala konsekuensinya.
- Melanjutkan poin di atas – Pertanyaannya, apakah selalu begitu rumusannya? Bukankah terkadang kita menerima yang jahat padahal sudah melakukan yang baik kepada orang lain? Sementara, bila kita mengacu pada Anugerah Allah maka sebetulnya kita telah menerima segala kebaikan-Nya di tengah² segala kejahatan kita. Apalagi disebutkan bahwa ini yang menjadi INTI dari Hukum Taurat & Kitab Para Nabi. Dengan alasan² itulah maka seharusnya kita tidak menyimpulkan firman Tuhan ini bersifat transaksional tadi. Kalau ini transaksional maka akan muncul ketidak-sesuaian yang cenderung memunculkan kekecewaan & teman²-nya.
- Jikalau kita memaknai ayat tersebut sebagai perintah, maka tepatnya kita diminta untuk “menjemput bola, bukan menunggu bola” dan dilakukan tanpa pamrih.
- Langkah tersebut akan memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan sosial kita karena kita memiliki modal empati yang luar biasa; akan menghadirkan keharmonisan dalam membangun kehidupan bersama. Seharusnya hal ini tidak berhenti sampai di sini saja, bukannya hal ini merupakan kesaksian hidup tentang cinta kasih TUHAN yang IA limpahan kepada kita, dan kita teruskan bagi orang lain.
- Mari kita bandingkan dengan Matius 7:12b – Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi; dengan Matius 22:40 – Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Maka seharusnya kita bisa menyimpulkan bahwa Golden Rule ini sangat terkait dengan Perintah Agung yakni Mengasihi Allah & Sesama.
DOA: Tolonglah kami ya TUHAN agar tidak terjebak dalam perilaku transaksional, berharap mendapat imbalan yang Selaras dengan apa yang kami sudah lakukan. Berikan ketulusan, kesungguhan, keberanian untuk menjadi kesaksian dan keberanian menyatakan iman melalui tutur kata dan perbuatan kami. Tolonglah kami ya TUHAN. Dalam nama-Mu. Amin.
Bacaan Alkitab
1 Tawarikh 20-21
