MANUSIA, DOSA & KELUARGA

⁹Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” ¹⁰Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” ¹¹Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Ku plarang engkau makan itu?” ¹²Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” ¹³Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kau perbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”
(Kejadian 3:9-13)

Bicara soal kehidupan berumah tangga & berkeluarga, mungkin kita akan menemukan cara berpikir, cara menyikapi dan cara menjalani yang sangat beragam. Misalkan, di suatu masa ada believe yang menyebutkan “Banyak Anak Banyak Rejeki”, berbeda di masa lain yang mengatakan “Banyak Anak harus Menambah Rezeki” atau bahkan “Berkurang Rezeki/ Tak Cukup Rejeki”. Atau ada yang mengatakan “Hidup Berdua itu Lebih Sulit”, padahal Tuhan Allah memandang tidak baik manusia itu seorang diri saja, maka IA memberikan penolong yang sepadan – artinya hidup bersama itu lebih mudah.

Dari cerita² semacam kisah² di atas setidaknya akan mengarahkan pada kesimpulan bahwa permasalahan hidup (khususnya berkeluarga) akan bertambah  berbanding lurus dengan pertambahan variabel kehidupan keluarga. Semakin sedikit variabel-nya maka semakin sedikit permasalahannya. Sekalipun mungkin ada benarnya, namun kita tidak bisa memukul rata rumusan tersebut, karena faktanya variabel² tersebut hadir juga bisa menjadi sebuah kontribusi yang memberikan sumbangsih terhadap hal² yang baik dalam keluarga. 

Bila kita bandingkan dengan bacaan di atas, boleh dikata variabel kehidupan Adam & Hawa belum terlalu kompleks; boleh dibilang seluruh kebutuhan sangat tercukupi, menikmati “Bulan Madunya”, belum ada anak² yang meramaikan & “meramaikan” kehidupan keluarga, tidak ada “mertua” yang ngatur dan intervensi, tetapi toh mereka menghadapi permasalahan rumah tangga. Mungkin kita akan mengatakan bahwa penyebabnya terlalu klasik dan sangat teologis – karena DOSA. Tetapi itulah fakta yang dicatat oleh Alkitab. Jadi kalau dalam kehidupan kita sebagai suami istri (pasangan) saling menyalahkan dalam rangka membenarkan diri sendiri – itu bukan tragedi masalah baru di zaman NOW. Ada yang mengatakan bahwa itu sudah terjadi sejak zaman bapak Adam dan ibu Hawa, tatkala mereka telah jatuh dalam dosa. Yang jelas, masalah akibat dosa ini terus berkembang biak, terus bermutasi, terus berganti rupa, berganti nama, dan berganti penyebab. Akibatnya, keluarga semakin jauh dari rancangan awal tatkala Allah mengawalinya.

Tentu saja Allah sebagai Pencipta Keluarga tidak senang melihat permasalahan² yang bisa menggerogoti kehidupan keluarga yang seperti itu, sekalipun tak jarang IA membiarkan kita harus menghadapi konsekuensi²-nya. IA ingin memulihkan keluarga² itu, tentu dengan mengawalinya dari pemulihan setiap pribadi yang ada di dalamnya. Maukah anda untuk mengalami pemulihan-Nya tersebut?

DOA: Ya TUHAN, acapkali tatkala kami menghadapi prasarana rumah tangga, kami bersikukuh membenarkan diri kami dan menyalahkan pihak lain, dan kami betah dengan situasi itu. Sadarkan kami ya TUHAN bahwa kami butuh untuk dipulihkan, mulai dari diri setiap kami, agar keluarga kami pun Engkau pulihkan. Mohon belas kasihan-Mu ya TUHAN Yesus. Amin.

Bacaan Alkitab
Keluaran 19-21