MAKNA HIDUP: ENGKAU BERHARGA DI MATA ALLAH
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,…
(Yes 43:4a)
“Hidup itu buat apa sih?”, begitu pertanyaan dari seorang muda dalam percakapan di suatu sore. Dia melanjutkan, “Masa’ sih hidup itu cuma sekadar lahir, sekolah, kuliah, kerja, nikah, punya anak, sakit, mati… Kalo cuma itu, alangkah tidak bermakna-nya hidup ini”. Saya yakin pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan puitis dari seorang ‘anak senja’ yang menikmati sunset sambil mendengarkan musik Indie dan menyeruput Ice Coffee Latte, namun sebuah pertanyaan filosofis eksistensial yang harusnya dipikirkan semua orang. “Hidup itu buat apa?”
Makna hidup sangat terkait dengan identitas diri yang telah kita renungkan beberapa hari ini, jadi mari sedikit kembali ke perenungan soal identitas itu. Ketika seorang menempatkan identitas pada pencapaian, karier, prestasi, validasi dan lain sebagainya, mereka akan berjuang untuk mencapainya dan berusaha mempertahankannya. Ada rasa puas ketika telah sampai pada titik pencapaian tertentu…namun kepuasan itu tidak bertahan lama. Dengan segera, kepuasan itu akan digantikan oleh iri hati dan rasa tidak aman ketika melihat orang lain mencapai lebih, dan dengan demikian segera digeserkan oleh target pencapaian yang baru—yang lebih tinggi—dan ketika target yang lebih tinggi itu tercapai akan ada rasa puas…yang sementara…yang segera digeser oleh rasa tidak aman dan target-target baru…dan siklus ini tidak akan berhenti. Jadi apakah makna hidup hanyalah sebuah perpindahan dari satu tahap ke tahap selanjutnya, dari satu target ke target selanjutnya, dari satu ketidakpuasan kepada ketidakpuasan selanjutnya?
Sebuah kalimat dari C.S Lewis, seorang penulis Inggris dalam bukunya Mere Christianity, mengatakan, “Jika aku menemukan dalam diriku keinginan-keinginan yang tidak bisa dipuaskan oleh dunia ini, maka satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah bahwa aku diciptakan untuk dunia yang lain”. Lewis mengungkapkan adanya kerinduan yang tak terpuaskan dalam diri manusia, kerinduan akan makna, yang tidak akan dapat dipuaskan oleh apa yang ada di dunia ini. Dan itu hanya dapat terpuaskan ketika kita menyadari bahwa kita memang tidak diciptakan untuk menemukan makna diri itu ‘di sini’ namun di dunia yang lain—dunia Allah—ketika kebermaknaan diri kita tidak kita dapatkan melalui apa yang kita capai, melainkan pada apa yang Allah katakan tentang kita; ‘Engkau mulia dan berharga di mata-Ku’. Hidup kita bermakna. Hidup kita berarti. Hidup kita lebih dari sekadar perjalanan dari satu titik ke titik lain. Hidup kita berharga, dan itu yang dikatakan Sang Pencipta alam semesta bagi kita! -Dan
Bacaan Alkitab
Mazmur 1-2
