TIDAK MUNGKIN TERSEMBUNYI
DAMPAK TERANG
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
(Matius 5:13-16)
Sekitar 1½ (satu setengah) tahun lalu kita pernah belajar bersama melalui mimbar bahwa menyatakan terang TUHAN itu seharusnya bagian dari proses pertumbuhan iman, bukan settingan.
Bagaimana kita memahami City on the Hill? Apakah dengan unsur kesengajaan agar dapat dilihat orang? Kehidupan kekristenan bukanlah sesuatu yang dipamerkan dan life style yang di-buat² dan se-olah² harus begini dan begitu, pasti begini dan begitu yang justru akan menimbulkan kepalsuan, kemunafikan dan kelelahan menjalani hidup. Mengapa? Karena perubahan hidup tidak terjadi dari luar ke dalam, melainkan dari dalam ke luar (Roma 12:2). Demikian seharusnya “menjadi” Garam & Terang itu terjadi. City on the Hill menjadi kiasan/ gambaran yang sangat menarik, karena memang tidak dapat disembunyikan – sesuatu yang pastinya & seharusnya terjadi, bukan sesuatu yang dibuat². Can’t Be Hidden harus dimaknai sebagai Natural Growth as True Believers.
Dalam salah satu tayangan YouTube diberitakan tentang adanya program² Televisi yang sebagian ada di rating tinggi ternyata adalah “setingan” alias dibuat² dan se-olah² peristiwa yang benar. Yang ketika diungkapkan “aib-nya” justru menjadi bahan tertawaan dan menuai rasa malu.
Bukan saja acara² Televisi, bahkan konon di acara² yang bertajuk rohani-pun ada acara² yang “setingan”. Didapati orang² yang sama untuk maju menyatakan respon pertobatannya dan mengalami kuasa Tuhan. Pertanyaannya, memangnya harus berapa kali seseorang bertobat & percaya kepada Yesus? Lalu bagaimana ia memaknai & menjalani kehidupan pertobatannya? Sekali lagi, konon – hal sama terjadi dalam ibadah² Kesembuhan & Pertunjukan Kuasa Allah – mengapa orang² yang disembuhkan adalah orang yang sama, dengan penyakit yang sama sekalipun dilakukan di kota yang berbeda. Fenomena apa ini?
Komentar yang muncul, dunia ini penuh dengan kepalsuan, ke-pura²-an, dunia ini panggung sandiwara. Apakah hal² seperti ini bisa membawa dan memberi dampak yang baik? Apakah hal² seperti itu yang diharapkan oleh TUHAN agar kita bisa menyatakan terang-Nya?
Seharusnya kita memaknai perkataan di ayat ¹⁶Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” – bukan dalam pengertian BAIK dalam ke-pura²-an, kepalsuan, bahkan kemunafikan (sebagai topeng); melainkan kebaikan yang diakibatkan oleh kesejatian transformasi hidup dengan senantiasa menghasilkan buah² Roh yang harusnya bersifat permanen. Kebaikan sejati selalu dapat dibuktikan dalam proses berjalannya waktu – bukan sesaat, bahkan untuk kepentingan² tertentu saja. Di sinilah Terang itu akan memberikan dampak; menerangi mereka yang hidup dalam kesuraman, bahkan kegelapan. Terang menghadirkan manfaat – bukan mudharat (Arab: bahaya atau cidera). Terang membuat mereka yang hidup berat mendapat ber(k)at.
DOA: Tuhan, di satu sisi kami membangun obsesi untuk memiliki hidup yang berdampak & menjadi berkat bagi orang lain & lingkungan, namun di sisi lain kami terlalu nyaman dengan topeng kehidupan yang kami kenakan – yang sejujurnya selalu menyeret kami dalam kemunafikan. Ampuni kami ya TUHAN karena kami tidak mampu menyembunyikan jati diri kami dari pada-Mu ya Allah yang Mahatahu. Transformasikan hidup kami agar menjadi terang-Mu. Amin. (jp)
Bacaan Alkitab
Yeremia 47-48
