KRUSIALITAS KEBANGKITAN KRISTUS (2)

¹³Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. ¹⁴Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. ¹⁵Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus — padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. ¹⁶Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. ¹⁷Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. ¹⁸Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. ¹⁹Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.
(1 Korintus 15)

Bila dalam perenungan sebelumnya kita lebih memperhatikan pada hal² terkait adanya pihak luar yang berupaya untuk mempengaruhi jemaat TUHAN agar tidak percaya kepada kebangkitan orang mati, dalam logika terbalik – mengindikasikan bahwa kebangkitan (Kristus) memiliki poin krusial-nya. Maka dalam perenungan hari ini kita akan melihat krusialitas kebangkitan Kristus dalam pendekatan yang lain: Kebangkitan Kristus teramat penting dan sangat menentukan. Di sinilah krusialitasnya. Paulus menggunakan pendekatan ⁰ yang secara negatif untuk menjelaskan betapa luar biasanya faktor penentu ini dengan mengatakan:

Kalau Kristus TIDAK BANGKIT

Maka apa yang akan terjadi, atau menjadi konsekuensi logis & teologisnya (simak kembali bacaan di atas, khususnya bagian² yang digaris-bawahi) sebagai berikut:

  • Sia² pemberitaan/pelayanan kami. Kita bisa bayangkan berbagai upaya yang Paulus sudah lakukan untuk menjadi rasul bagi bangsa² dengan meninggalkan & menanggalkan berbagai kebanggaannya dan menganggapnya sebagai sampah dan bersedia dianggap oposan oleh lingkaran lamanya; dilanjutkan dengan perjalanan² misinya yang menghabiskan banyak waktu, tenaga, biaya bahkan mempertaruhkan nyawanya tatkala menghadapi situasi² yang genting; dan masih lagi konsekuensi² lain . . . . Dan tiba² itu semua menjadi ke-SIA²-an tatkala Kristus tidak bangkit . . . .
  • Sia² kepercayaan kamu. Tidak berhenti di dirinya saja, Paulus melihat dampaknya kepada mereka yang selama ini mendengarkan pemberitaannya untuk menjadi percaya. Dengan kata lain, kalau pemberitaannya sia², isi pemberitaannya sebagai dusta, maka sia² pula kepercayaan yang dibangun & diterima.
  • Kami menjadi pendusta, karena “ber-koar² memberitakan bahwa Allah membangkitkan Kristus namun faktanya Kristus ternyata tidak dibangkitkan. Konsekuensi lebih beratnya orang akan men-cap Allah yang diberitakan Paulus adalah Allah Pendusta.
  • Kamu masih berdosa. Dengan demikian keyakinan yang dibangun untuk dipercayai, dipegang teguh sebagai kebenaran iman bahwa TUHAN telah menebus dosa, ternyata itu berita bohong/ ajaran sesat.
  • Orang² mati dalam Kristus → Binasa. Tentu saja itu konsekuensi logisnya, karena orang² berdosa akan mendapatkan murka Allah, dan hidup dalam kebinasaan kekal.
  • Orang paling malang. Jelaslah predikat itulah yang paling cocok bagi mereka yang mempercayai bahkan menghidupi berita² bohong.

Setidaknya dari sekian banyak pengaruh/ konsekuensi Kalau Kristus TIDAK Dibangkitkan seperti rincian di atas, justru logika terbaliknya yang kita tangkap adalah betapa krusial/ menentukan nya kebangkitan Kristus itu. Kalau boleh digambarkan sebagai salah satu titik pijak dalam kekristenan, maka tatkala titik pijak ini dihancurkan, maka hancurlah kekristenan itu sendiri. Segala sesuatunya yang dibangun selama ini ternyata adalah SIA².

Refleksi:

Kalau mereka yang kontra kekristenan mampu melihat krusialitasnya pemahaman/ doktrin² tertentu dan secara massive berupaya untuk meruntuhkannya, maka seharusnya setiap kita yang berada di dalam kekristenan dengan anugerah-Nya yang begitu luar biasa itu juga mampu melihat, menyadari & mengimani krusialitasnya kebangkitan Kristus. Bukankah demikian? (jp)

Bacaan Alkitab
Matius 25