PROYEK BESAR. SIAPA YANG NGEBANGUN?
⁴Lalu kata raja kepadaku: “Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, ⁵kemudian jawabku kepada raja: “Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali.” ⁶Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: “Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?” Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya. ⁷Berkatalah aku kepada raja: “Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. ⁸Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng Bait Suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami.” Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.
(Nehemia 2:4-8)
Kita akan memulai perenungan kita di minggu (week) ini dengan kisah yang sudah tidak asing lagi bagi kita – Kisah Pembangunan (kembali) Tembok Yerusalem.
Ada hal yang cukup menarik bila kita telisik lebih jauh tentang hal apa saja yang terjadi pada diri Nehemia. Memang tidak bisa dipungkiri – berdasarkan kitab Nehemia – bahwa awal mula proses pembangunan ini dimulai oleh Nehemia yang merasa prihatin dengan apa yang terjadi kepada orang² Yahudi yang dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela dan kondisi tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api. Keprihatinan ini berlanjut pada kesedihan yang dalam, membuatnya menangis, berkabung, berpuasa & berdoa memohon pengampunan dosa dari TUHAN atas nama orang² Israel yang tidak berlaku setia kepada TUHAN. Kesedihan yang terbawa dan terlihat sampai ke dunia kerjanya, dan terlihat oleh sang raja.
Langkah berikutnya seakan terjadi begitu saja dengan mudahnya yang seakan sang raja memberi kesempatan bagi Nehemia untuk mengungkapkan keinginan²-nya. Tentu saja jawaban² Nehemia muncul karena hikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya, di mana sebelumnya Nehemia berdoa kepada Allah semesta langit. Ada 3 (tiga) hal yang disampaikan:
- Keinginan untuk diutus oleh raja ke Yehuda supaya membangun kembali Yerusalem yang telah menjadi reruntuhan dan pintu²gerbangnya habis dimakan api.
- Meminta katabelece dari raja untuk para penguasa daerah (bupati²) agar Nehemia bisa izin lewat dan sampai tujuan dengan tidak dihambat dan selamat.
- Meminta surat bagi Asaf agar mendapatkan kebutuhan logistik untuk pembangunan tembok kota, balok-balok pada pintu-pintu gerbang Bait Allah dan untuk rumah yang akan Nehemia diami.
Singkat cerita, apa yang menjadi keinginan Nehemia semakin bisa diwujudkan – karena izin raja sudah keluar, katabelece untuk para bupati sudah di tangan, kebutuhan² logistik sudah disiapkan – kira² apa yang ada di benak Nehemia tentang siapa yang akan membangun? Mengapa kita menemukan sebuah permohonan yang diajukan kepada raja agar memberikan jago² & tukang² bangunan untuk menyertai Nehemia – sementara panglima² perang dan orang² berkuda saja diperintahkan raja untuk menyertai perjalanan Nehemia. Mungkin kalau langkah ini diambil oleh Nehemia bukankah lebih praktis. Itu tidak kita temukan dalam kitab Nehemia.
Di titik inilah, yang dapat simpulkan Nehemia berpikir bahwa kaumnya, orang² Yahudi tersisa di Yerusalem dan Yehuda, orang² sebangsanya yang harus mengerjakannya. Banyak alasan yang dapat dijabarkan jikalau memang Nehemia mau melibatkan mereka untuk mengerjakan pembangunan tembok Yerusalem ini. Mereka adalah The Insiders of Jerusalem.
Refleksi:
Apakah anda The Insider of (GKA) Zion?
Bacaan Alkitab
Ayub 14-16
