ALLAH MEMAKAI YANG KECIL DAN TIDAK DIPERHITUNGKAN
“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”
(Mikha 5:1)
“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,”
(1 Korintus 1:27)
Abraham Maslow adalah seorang psikolog humanistik yang terkenal dengan teori Hierarchy of Needs di mana dalam teori ini dijelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang tersusun bertingkat, dan kebutuhan di level bawah harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang dapat bergerak ke level yang lebih tinggi. Adapun hirarki kebutuhan tersebut antara lain:
- Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)
- Kebutuhan Keamanan (Safety Needs)
- Kebutuhan Sosial / Kepemilikan dan Kasih Sayang (Love & Belonging)
- Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needs)
- Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization)
Dari teori ini membuktikan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk diakui bukan diremehkan tetapi prinsip kerja Kerajaan sorga berbeda dengan dunia. Allah memilih memakai yang kecil, yang lemah, yang tertindas, yang tidak diperhitungkan, yang dianggap bodoh atau hina untuk karya yang besar;
- Hakim-hakim 6:14-16 -> Gideon yang paling muda.
- 1 Samuel 16:12 -> Daud yang kemerah-merahan
- Mazmur 8:3 -> bayi-bayi dan anak-anak
- Lukas 1:52 -> meninggikan orang rendah.
- 1 Korintus 1:27–29 -> orang bodoh dan orang lemah.
Tuhan memilih kota Betlehem bukan notabene bukan kota penting. Tidak ada istana, kekuatan militer, atau pusat kekuasaan. Namun di tempat kecil itulah rencana keselamatan dunia dimulai. Allah sengaja memakai yang kecil agar kemuliaan menjadi milik-Nya, bukan milik manusia. Apa pun posisi dan kelemahan kita, ingatlah bahwa kita tetap dapat dipakai Allah. Maukah engkau dipakai oleh Allah untuk menjadi berkat bagi orang lain? Mari lakukan tindakan kecil yang bermakna untuk seseorang, misalnya: mengirim pesan penyemangat, membantu pekerjaan sederhana, memberi tumpangan, dsbnya.
”Allah menjadikan hal kecil bermakna ketika kita menaruhnya di tangan-Nya.”
Doa: Pakailah aku menjadi alat di tangan-Mu, Tuhan. Amin. (jho)
Bacaan Alkitab
Yesaya 46-47
