JEMBATAN KONTEKSTUAL: MENEMUKAN MEZBAH YANG TAK DIKENAL
Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.
(Kisah Para Rasul 17:23)
Kemarin kita belajar bahwa misi dimulai dengan mengamati. Hari ini, kita melangkah lebih jauh: Apa yang kita lakukan setelah mengamati? Bagaimana kita mulai berbicara tentang Yesus kepada orang yang mungkin merasa “asing” dengan istilah-istilah gereja kita? Rasul Paulus memberikan sebuah pelajaran berharga di Athena. Ia tidak membawa Alkitab Ibrani dan membacakannya kepada orang Yunani yang tidak tahu siapa itu Abraham atau Ishak. Sebaliknya, ia mencari “Mezbah yang Tak Dikenal”. Ia mencari sesuatu yang sudah ada di budaya mereka untuk menjelaskan Siapa Tuhan itu. Inilah yang kita sebut sebagai Jembatan Kontekstual. Pastinya ada banyak usaha dalam memahami “Bahasa” Dunia. Di ayat 23, Paulus berkata: “Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal.” Mari kita coba membayangkan situasinya: Athena penuh dengan patung dewa. Ada dewa perang, dewa laut, dewa kecantikan. Tapi orang Athena merasa masih ada yang kurang. Mereka takut ada dewa yang terlewatkan, maka mereka membuat satu mezbah cadangan untuk “Allah yang tidak dikenal”. Menemukan fakta ini, Paulus tidak mengejek ketakutan mereka. Ia justru menggunakan mezbah itu sebagai titik temu. Paulus seolah berkata, “Kalian merasa ada yang kurang dalam hidup kalian, bukan? Kalian merasa ada ‘Sesuatu’ atau ‘Seseorang’ yang lebih besar dari semua patung ini? Mari saya perkenalkan siapa Dia.” Apa yang dihadapi Paulus saat itu juga menjadi bagian yang kita alami juga, di luar sana banyak orang di sekitar kita tidak mencari “Agama Kristen”, tapi mereka mencari kedamaian, mereka mencari pemulihan keluarga, atau tujuan hidup. Itulah “mezbah” mereka. Tugas kita bukan memaksakan bahasa kita, tapi masuk ke dalam kerinduan mereka. Ruang kosong inilah yang perlu diisi dengan Kebenaran. SehinggaPaulus melanjutkan: “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepadamu.” Dengan pernyataan ini Paulus menolong kita untuk melihat bahwa mMisi yang membumi tidak berkompromi dengan kebenaran, tapi ia membungkus kebenaran itu dengan cara yang bisa “dicerna”. Paulus mengambil konsep yang mereka punya (mezbah kosong) dan mengisinya dengan isi yang benar (Yesus Kristus). Seringkali kita gagal bermisi karena kita sibuk menghancurkan “mezbah” orang lain sebelum mereka melihat indahnya Kristus. Paulus tidak menghancurkan mezbah itu; ia memakainya sebagai mimbar untuk memberitakan Injil. Seorang Kristen yang menjadi “terang” adalah ia yang mampu membangun jembatan. Tembok memisahkan, tapi jembatan menghubungkan dua tempat yang berbeda. Di dunia kerja, jembatan Anda mungkin adalah integritas. Di tengah dunia yang korup, orang mencari kejujuran (mezbah tak dikenal). Saat Anda jujur, orang akan bertanya “Mengapa?”. Itulah saatnya Anda menjadi jembatan: “Saya jujur karena Tuhan yang saya sembah adalah Tuhan yang benar.”
Di dunia keluarga, jembatan Anda mungkin adalah pengampunan. Saat orang sulit mengampuni, mereka merindukan kelegaan. Tunjukkan pengampunan, dan jadilah jembatan menuju Kristus.. (Ant)
Bacaan Alkitab
Matius 5-7
