PRAYER FOR THE NATION: DOA BAGI NEGERI

“Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel: Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
(Yeremia 29:4-7)

Ketika berbicara tentang negeri, bangsa, pemerintahan, kondisi sosial, ekonomi, hukum, atau berbagai persoalan yang sedang terjadi, sering kali respons pertama yang muncul bukanlah doa, melainkan keluhan. Kita lebih mudah mengkritik daripada berdoa. Kita lebih cepat menemukan kesalahan daripada menaikkan permohonan kepada TUHAN. Namun menariknya, perintah dalam bacaan hari ini diberikan bukan kepada orang-orang yang sedang menikmati keadaan yang nyaman. Yeremia menyampaikan firman ini kepada bangsa Yehuda yang sedang hidup dalam pembuangan di Babel. Mereka bukan warga negara yang sedang merasakan kemakmuran. Mereka adalah bangsa yang kehilangan tanah air, kehilangan Bait Allah, kehilangan kebebasan, bahkan sedang berada di bawah kekuasaan bangsa asing. Secara manusiawi, mungkin lebih masuk akal apabila mereka diminta untuk membenci Babel, mengutuk Babel, atau berharap Babel segera dihancurkan. Tetapi justru yang diperintahkan TUHAN adalah sesuatu yang sangat berbeda: “Usahakanlah kesejahteraan kota itu.” “Berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN.” Perintah ini terasa tidak masuk akal. Mengapa harus mendoakan tempat yang menjadi simbol penderitaan mereka? Mengapa harus mendoakan bangsa yang telah menaklukkan mereka? Jawabannya sederhana: karena TUHAN tetap bekerja atas sejarah, bangsa-bangsa, pemerintahan, dan seluruh perjalanan dunia. Orang percaya tidak dipanggil untuk menentukan hasil akhir sejarah, tetapi dipanggil untuk setia menjalankan bagian yang TUHAN percayakan.

Mungkin ada di antara kita yang berpikir: “Apa gunanya saya berdoa untuk negeri ini?” “Apakah doa saya bisa mengubah keadaan?” “Bukankah masalah bangsa ini terlalu besar?” Jika ada orang yang berhak merasa doanya sia-sia, mungkin Yeremia adalah salah satunya. Sepanjang pelayanannya ia menghadapi penolakan, ejekan, ancaman, bahkan pemenjaraan.

Bacaan Alkitab
Bilangan 35-36