DOA BAGI NEGERI: BUKAN KARENA NEGERI INI SEMPURNA

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
(Yeremia 29:7)

Ketika berbicara tentang doa bagi negeri, sering kali muncul pertanyaan dalam hati kita: Mengapa saya harus mendoakan negeri ini? Bukankah masih banyak ketidakadilan? Bukankah masih ada korupsi, kemiskinan, kejahatan, konflik, dan berbagai persoalan lainnya? Bukankah sering kali kita merasa kecewa dengan keadaan bangsa yang kita cintai ini? Bila doa bagi negeri didasarkan pada kondisi negeri yang sempurna, maka mungkin tidak akan ada satu pun negeri yang layak didoakan. Sebab sejak dahulu hingga sekarang, setiap bangsa selalu memiliki kelemahan, dosa, dan pergumulannya masing-masing. Hal yang menarik dari Yeremia 29 adalah fakta bahwa perintah untuk berdoa diberikan bukan ketika bangsa Israel sedang menikmati masa keemasan. Mereka justru sedang hidup dalam pembuangan di Babel. Mereka kehilangan kemerdekaan, kehilangan tanah air, bahkan harus hidup di bawah pemerintahan bangsa asing. Namun TUHAN tidak berkata: “Berdoalah jika Babel berubah menjadi lebih baik.” “Berdoalah jika para pemimpinnya sudah benar.” “Berdoalah jika keadaan sudah sesuai dengan harapanmu.” Tidak. TUHAN memerintahkan mereka untuk berdoa dalam kondisi yang sedang mereka hadapi saat itu. Di sinilah kita belajar sebuah prinsip penting: orang percaya tidak berdoa karena keadaan sudah baik, tetapi berdoa karena percaya bahwa TUHAN sanggup bekerja di tengah keadaan yang tidak baik.

Sering kali yang menghalangi doa bukanlah keadaan negeri, melainkan hati kita sendiri. Ketika kekecewaan bertumbuh, doa perlahan menghilang. Ketika kritik semakin banyak, syafaat semakin sedikit. Ketika kemarahan memenuhi pikiran, kita lebih mudah mengutuk daripada memberkati. Padahal doa bagi negeri adalah bentuk pengakuan bahwa Allah masih berdaulat atas bangsa-bangsa. Kita mungkin tidak memegang kekuasaan politik, tetapi kita memiliki hak istimewa untuk datang kepada Raja di atas segala raja. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk melihat lebih jauh daripada sekadar berita, peristiwa, atau keadaan yang tampak di depan mata.

Kita dipanggil untuk melihat bahwa TUHAN tetap bekerja, bahkan ketika kita belum melihat hasilnya. Karena itu, jangan menunggu negeri menjadi sempurna untuk mulai berdoa. Justru karena negeri ini membutuhkan pertolongan TUHAN, maka kita harus berdoa.

Refleksi: Ketika melihat kondisi bangsa saat ini, apakah saya lebih banyak mengeluh atau lebih banyak berdoa? Apakah saya masih percaya bahwa TUHAN sanggup bekerja atas negeri ini melalui doa-doa umat-Nya?

Doa: Tuhan, kami berdoa bagi negeri kami bukan karena negeri ini sempurna, tetapi karena kami percaya Engkau tetap berdaulat dan sanggup bekerja membawa pemulihan, damai sejahtera, dan kebaikan bagi bangsa kami. Amin. (Yun).

Bacaan Alkitab
Ulangan 1-2