SIGNIFIKANSI KEBANGKITAN KRISTUS
⁸Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. ⁹Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. ¹⁰Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. ¹¹Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya. ¹²Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?
(1 Korintus 15)
Mungkin kita pernah mendengar, melihat – atau kita sendiri yang mengalami dan mengambil langkah mundur, menarik diri, meninggalkan kancah kehidupan iman kristen kita.
Ada orang² yang undur dari pelayanan yang selama ini digeluti & dipercayakan kepadanya. Biasanya tanggapan kita yang paling rohani – orang tersebut tidak/ belum memiliki pemahaman pelayanan yang benar, bukankah pelayanan itu untuk/ bagi TUHAN, menyenangkan-Nya, memuliakan-Nya, dst . . BUKAN untuk dilihat manusia, dst . . . Tetapi mengapa ketika kecewa dengan manusia, konflik dengan manusia maka meninggalkan pelayanan yang diyakini dipercayakan TUHAN kepadanya? STOP
Ada orang² yang meninggalkan kekristenan, meninggalkan iman percaya kepada Kristus yang selama dibangun dengan penuh harapan, lalu tiba² mengambil keputusan meninggalkan rumah TUHAN, meninggalkan umat TUHAN, bahkan meninggalkan TUHAN karena sesuatu yang diharapkan tidak kunjung tiba. Biasanya tanggapan kita yang paling rohani adalah, dia hanya mencicipi anugerah tetapi belum mengalami; dia belum sungguh² percaya yang ditandai oleh kelahiran baru; dia melihat kekristenan sebagai salah satu alternatif untuk mencapai harapan & keinginannya – dan mengapa tidak dicoba; dst . . . . STOP
Kalau kita menyimak kembali perihal keprihatinan dan keheranan Paulus karena ada orang² di antara jemaat Korintus yang tidak percaya kepada kebangkitan Kristus, sekalipun disadari ada pihak² yang membawa pengaruh itu – keheranan ini mungkin bisa mengerti apalagi ketika kita memperhatikan bahwa perjumpaan Paulus dengan Kristus memberikan signifikansi yang luar biasa:
- Ia menyadari siapakah dirinya sebagai seseorang yang dijumpai oleh Yesus
- Ia menyadari hal terkait dengan kerasulannya, bahkan menyebut dirinya tidak layak disebut sebagai rasul.
- Kita melihat bagaimana responnya terhadap kasih karunia Allah yang diyakininya tidak akan pernah mendatangkan kesia-siaan.
- Hal² ini menjadikannya bekerja lebih giat lagi, lebih keras lagi sekalipun banyak peristiwa yang secara manusiawi bisa membuatnya putus asa, kecewa dan akhirnya mundur dari hadapan TUHAN.
Refleksi:
Justru hal yang paling memprihatinkan adalah terjadinya penyangkalan secara praktis (bukan teologis) yang terjadi di antara mereka yang mengklaim diri sebagai orang² percaya, dimana aplikasi bergiat bagi TUHAN tidak menjadi obsesi kudus. Benarkah Kebangkitan Kristus penting bagi kita? (jp)
Bacaan Alkitab
Yohanes 14-17
