MESIAS YANG MENINGGALKAN DAMAI SEJAHTERA

Dia akan menjadi damai sejahtera.
(Mikha 5:4a)

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
(Yohanes 14: 27)

Selain memperkenalkan gembala yang menggembala dengan kuatan Allah, nabi Mikha juga memperkenalkan gembala yang memberikan damai sejahtera yang tinggal tetap di hati kawanan domba gembalaannya. Seperti yang telah saya uraikan di renungan hari pertama bahwa bangsa Yehuda dan Israel sedang mengalami kemerosotan rohani dan politik. Secara khusus Kerajaan Yehuda yang sedang berada dalam ancaman dari bangsa Aram dan kerajaan Israel. Alih-alih mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari Kerajaan Asyur, mereka justru menjadi negara jajahan yang harus membayar upeti kepada raja Asyur. Hidup mereka dipenuhi dengan ketakutan dan kekuatiran karena ancaman yang dari bangsa Aram dan Kerajaan Israel serta tekanan dari bangsa Asyur. Di dalam situasi seperti inilah berita sukacita ini datang kepada mereka. Mari kita perhatikan frasa “mereka akan tinggal tetap” pada Mikha 5: 3. Frasa ini mengindikasikan sebuah kondisi tenang, aman, stabil, adanya pemulihan serta damai sejahtera yang kokoh. Kondisi inilah didatangkan oleh gembala yang diutus oleh Allah yaitu sang Mesias itu sendiri. Dan damai sejahtera itu juga diberikan kepada para murid melalui Tuhan Yesus. Damai sejahtera yang diberikannya adalah damai sejahtera yang sama dan tidak berubah dari dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Damai sejahtera Mesias bukan sekadar perasaan, tetapi keadaan hidup yang aman di dalam Dia. Damai ini membuat kita kokoh meskipun situasi berubah. Damai-Nya tinggal tetap karena Dialah damai itu sendiri. Dalam ucapan berbahagia dikatakan “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5: 9). Inilah panggilan kita sebagai anak-anak Allah yaitu membawa damai kepada orang di sekitar kita. Pada hari ini saya mengajak dan menantang setiap kita untuk menjadi seorang pembawa damai dengan cara melakukan satu tindakan yang membawa damai di lingkungan kita, misalnya: meredam konflik kecil, memilih untuk tidak membalas perkataan orang yang menyakiti, memberkati orang lain yang megatai kita, atau memberi apresiasi tulus kepada rekan. Kiranya Tuhan menolong kita sekalian.

“Damai sejati bukan berarti ketiadaan masalah, tetapi kehadiran Mesias dalam hidup kita.”

Doa: Terima kasih untuk damai sejahteramu bagiku, sekarang tolong aku untuk membagikannya kepada orang lain. Amin. (jho)

Bacaan Alkitab
Yesaya 50-51