MEMANDANG KOTA DENGAN MATA ALLAH
Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
(Yeremia 29:7)
Secara historis dan kultural, umat Kristen cenderung bereaksi terhadap kota dengan salah satu dari dua pendekatan yang tidak seimbang. Pendekatan pertama adalah sikap yang menolak kota dan menarik diri dari kota. Dalam pendekatan ini, kota dilihat terutama sebagai pusat dosa, kerusakan moral, dan pengaruh jahat. Kota adalah ‘Babel’ atau ‘Sodom’ yang harus ditaklukkan atau dihindari, sehingga orang Kristen cenderung mengutuk budaya kota secular dan menarik diri untuk membangun sub-budaya Kristen yang terpisah dengan fokus utama untuk menjjaga kemurnian doktrin dan moral komunitas. Keterlibatan mereka dengan kota seringkali hanya bersifat eksploitatif—datang, kumpulkan jiwa, lalu bawa mereka ‘keluar dari dunia’. Sikapnya defensif, bukan pelayanan.
Pendekatan kedua adalah sikap yang menerima dan mengadopsi budaya dan nilai-nilai kota. Kota dilihat sebagai pusat kemajuan, budaya, keadilan sosial dan kehidupan yang dinamis di mana gereja harus beradaptasi dengan nilai-nilai kota agar tetap relevan. Dalam pendekatan ini, orang Kristen cenderung meredam atau mengaburkan pesan Injil yang khas (seperti dosa, penebusan melalui salib, perlunya pertobatan) agar tidak dianggap ofensif atau tidak toleran. Gereja menjadi sekadar LSM sosial dengan sedikit nuansa rohani dan kehilangan kuasa transformasi spiritual yang sejati
Di sini lah Injil memberikan pendekatan yang berbeda. Konteks ayat di atas adalah ketika umat Allah dalam pembuangan di Babel (kota asing/pusat kejahatan). Perintah Allah mengejutkan; bukan ‘jangan menjadi sama’ atau pun ‘jangan mengutuk’, melainkan ‘usahakan kesejahteraan kota itu’. Gereja dipanggil untuk hadir di kota sebagai ‘komunitas alternatif’ yang berbeda—bukan menarik diri, bukan pula mengikuti arus, melainkan melayani dan mentransformasi. Kita melakukan ini dengan keyakinan bahwa hanya Kristus yang dapat memulihkan shalom yang sesungguhnya, dan kita dipanggil untuk menjadi teladan dan memberi rasa dari pemulihan itu di tengah jantung kota di mana kita berada. Gereja harusnya bukan benteng yang mengepung kota, atau teater yang mengikuti naskah kota, melainkan menjadi jiwa dari kota itu sendiri.
Sebagai orang percaya, kita mudah mengkritik kota (ketidakadilan, kerusakan moral). Namun, Tuhan memanggil kita untuk memiliki pandangan ilahi: melihat kota sebagai tempat di mana struktur dan manusia perlu ditransformasi. Apakah doa dan sikap kita lebih banyak menghakimi atau mengusahakan kesejahteraan kota kita? Mulailah dengan mendoakan pemimpin, sektor-sektor publik, dan kesejahteraan sosial kota. (Dan)
Bacaan Alkitab
Ratapan
