GEREJA YANG MENGASIHI
ORANG ASING DAN TERPINGGIRKAN
Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.
(Imamat 19:34)
Dari abad 19 hingga pertengahan abad 20, paradigma misi banyak berfokus pada penjangkauan suku-suku di pedalaman, pulau-pulau terpencil, desa-desa yang belum terjangkau. Istilah ‘ujung bumi’ dipahami secara geografis sebagai tempat paling jauh dan terisolasi dari pusat peradaban. Namun pada akhir abad 20 hingga 21, terjadi pergeseran paradigma yang dipengaruhi oleh urbanisasi global. Tahun 1900, hanya 13% populasi dunia tinggal di kota. Tahun 2007, angka itu mencapai 50%. Sekarang (2020-an), lebih dari 56%, dan diproyeksikan 68% pada 2050. Kota menjadi ‘medan misi baru’ yang paling padat dan strategis. ‘Ujung bumi’ bukan hanya ditafsirkan sebagai lokasi geografis, tetapi sebagai pusat-pusat pengaruh di mana misi harus menembus dan menebus pusat kekuasaan, budaya, pendidikan, dan ekonomi. Migran dari berbagai suku, bahasa, agama, status sosial, dan bangsa berkumpul di kota—di lingkungan apartemen, kawasan industri, hingga lingkungan kumuh. Menjangkau satu kawasan di kota bisa sama dengan menangkau sepuluh suku berbeda yang belum pernah mendengar Injil di tempat asalnya.
Namun kota bukan hanya tempat kemakmuran, tetapi juga pusat kemiskinan ekstrem, kesepian, ketidakadilan, eksploitasi, dan keputusasaan dalam skala massal. Dalam kondisi ini, Injil yang holistik (menyembuhkan jiwa dan tubuh) sangat dibutuhkan di tengah kompleksitas masalah kota. Ayat yang kita baca hari ini menunjukkan hati Allah yang sangat dekat dengan orang asing, janda, yatim-piatu, kaum lemah dan papa. Gereja yang benar-benar ada bagi kota (church for the city) adalah gereja yang dengan sengaja mengasihi dan melayani mereka yang paling rentan di kota itu, mencerminkan karakter Allah yang membela kaum tertindas. Pemahaman tentang pelayanan holistik mendorong kita untuk mengintegrasikan penginjilan dengan pelayanan keadilan sosial, pengentasan kemiskinan, pelayanan bagi kaum migran dan pendatang, pemulihan kecanduan, dan berbagai isu-isu sosial lain yang ada di kota. Gereja perlu memperlengkapi diri dengan teologi kota, pemahaman budaya urban, kemampuan mengelola stress kota, dan keahlian professional yang bisa digunakan di marketplace kota. Saat ini, siapakah “orang asing” dan “terpinggirkan” di kota kita? (migran, kaum pendatang, pekerja dari luar kota/ luar pulau, kaum miskin, penyandang disabilitas, dll). Bagaimana pelayanan kita bisa secara proaktif menjangkau dan memulihkan jiwa serta martabat mereka? (Dan)
Bacaan Alkitab
Yehezkiel 1-2
