“HARTA YANG BERCAHAYA”
DI DALAM BEJANA YANG RETAK

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.
(2 Korintus 4:7-9)

Alkitab telah menunjukkan kepada kita bahwa pencobaan, kesulitan, ataupun penderitaan merupakan sebuah realitas yang biasa atau normal dialami oleh setiap orang, sejak kejatuhan Adam dan Hawa. Alkitab mencatat kesusahan orang-orang yang mengalami sakit, diperlakukan tidak adil, mengalami kelemahan, penindasan, penganiayaan, kelaparan, kekerasan, peperangan, pengkhianatan, kemiskinan, kematian, dan masih banyak lagi. Alkitab juga menulis kisah penderitaan dan pencobaan yang dialami umat Allah juga tokoh-tokoh dalam Alkitab. Misalnya: penderitaan hidup yang dialami Ayub, penderitaan Pemazmur, penderitaan bangsa Israel, para nabi, penganiayaan yang dialami orang Kristen mula-mula, penderitaan para rasul, dll. Jadi, tidak ada orang yang tidak menderita.

Perlu diketahui, bahwa Alkitab tidak pernah memandang rendah orang yang menderita, tidak mengutuk atau mencemooh kesakitan atau penderitaannya. Alkitab menegaskan bahwa Allah tidak pernah memalingkan telinga-Nya dari seruan mereka yang menderita. Alkitab menghadirkan kepada orang yang menderita, pribadi Allah yang mengerti, peduli,  dan yang mengundang kita untuk datang mencari pertolongan pada-Nya, serta yang berjanji untuk mengakhiri semua jenis penderitaan suatu hari kelak, sekali untuk selamanya. Artinya, meskipun Alkitab dengan jujur memaparkan masalah penderitaan, di sisi lain Alkitab dipenuhi dengan pengharapan yang mulia.

Penderitaan yang dialami rasul Paulus adalah bukti bahwa tidak ada seorang pun yang kebal dari pencobaan dan penderitaan hidup. Paulus mengalami penindasan, keadaan terjepit, kehabisan akal, dan penganiayaan. Paulus menggambarkan hidupnya seperti bejana tanah liat yang retak dan rapuh, akan tetapi ada harta yang bercahaya di dalam retakan-retakan tersebut. Ia percaya bahwa Allah memiliki tujuan dengan membiarkannya berada dalam kesusahan dan penderitaan selama beberapa waktu lamanya. Pertama, supaya Paulus menyadari bahwa kehidupan, napas, dan semua hal dalam hidupnya bergantung sepenuhnya pada Allah. Kedua, mengajar Paulus agar menaruh harapan hanya pada Tuhan, bukan pada apa yang ada di dalam dirinya. Ketiga, percaya bahwa kekuatan dan pertolongan datangnya hanya dari Tuhan. David Tripp menjelaskan bahwa ketika Allah mengizinkan kita diretakkan dan berada dalam penderitaan, bukan berarti bahwa Ia sedang mengurangi pemberian-Nya, melainkan sedang memberi dengan lebih berlimpah pada kita. Bahkan Allah seringkali menggunakan retakan-retakan itu untuk memenuhi hidup kita dengan kehadiran, kasih karunia, dan kemuliaan-Nya.

Refleksi: Jika sedang mengalami retakan yang begitu menyesakkan, jangan putus asa, ingatlah kita tidak sendirian, yakinlah bahwa Allah sedang bekerja memenuhi hidup kita dengan kehadiran, kasih karunia, dan kemuliaan-Nya. (Mas Git)

Bacaan Alkitab
Amsal 31