MEMBERITAKAN KABAR BAIK YANG RELEVAN

Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.
(Kisah Para Rasul 17:16-17)

Pergeseran paradigma misi yang kita bicarakan di hari yang lalu bukan berarti mengecilkan arti misi ke desa atau daerah terpencil. Masih ada ribuan people groups terpencil yang perlu dijangkau. Namun tidak bisa dipungkiri, kota menjadi medan tempur untuk hati, pikiran, dan jiwa manusia. Misi kini dipanggil untuk menginjili kota, melalui kota dan dari kota—mengakui bahwa kota yang telah direbut bagi Kristus akan menjadi kekuatan pengutus yang dahsyat untuk menjangkau dunia, termasuk kembali ke desa-desa. Sebaliknya, jika kekristenan kehilangan kota, ia akan kehilangan generasi berikutnya dan kehilangan pengaruh budaya.

Kisah Para Rasul 17 menuliskan tentang respon Paulus ketika melihat kota Atena (pusat filosofi & penyembahan berhala). Paulus berespon dengan ‘hati hancur’ (belas kasihan), lalu ‘pergi ke tempat pertemuan publik’’ (rumah ibaadat maupun pasar) untuk berinteraksi dan menyampaikan Injil dengan cara yang dapat dimengerti—memahani altar ‘kepada Allah yang tidak dikenal, mengutip penyair Yunani, berargumen dengan bahasa filsafat Stoik/Epikurean. Melalui hal ini, kita diingatkan bahwa pemberitaan Injil bagi kota harus dimulai dengan belas kasihan dan dilanjutkan dengan keterlibatan yang memahami budaya, bahasa, serta ‘dewa/berhala’ modern kota (materialisme, prestise, kekuasaan, spiritualisme baru, kontrol, keamanan, otonomi dan kebebasan, dlsb). Tanpa pemahaman budaya, pesan kita akan terdengar asing dan tidak relevan.

Apakah kita cukup peduli dengan kondisi spiritual kota kita? Apakah kita kreatif dalam membawa kebenaran Kristus ke dalam percakapan dan ruang publik dengan bahasa yang penuh penghargaan dan relevan? Memahami budaya dan berhala kota bukanlah strategi marketing, tetapi wujud kasih dan penghormatan. Sebagaimana Paulus menjadi ‘segala-galanya untuk semua orang’ (1Kor 9:22), kita dipanggil untuk mendengarkan sebelum berbicara, memahami sebelum menghakimi, melayani sebelum menuntut. Injil selalu relevan di setiap budaya, tetapi penyampaiannya harus kontekstual. Ketika kita memahami berhala kota, kita bisa menunjukkan bagaimana Kristus bukan hanya menyelamatkan dari dosa, tetapi juga membebaskan dari berhala dan memenuhi kerinduan terdalam manusai yang dicari melalui berhala tersebut. Tujuan akhirnya bukan sekadar menjadikan orang kota ‘Kristen’ tetapi menjadikan mereka penyembah sejati di tengah hiruk pikuk tawaran berhala kota. (Dan)

Bacaan Alkitab
Yehezkiel 3-4