KRISTOSENTRISITAS HIDUP: IDENTITAS DI DALAM DIA
Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.
(Kisah Para Rasul 17:28)
Kita sampai pada puncak dari rangkaian renungan “Misi yang Membumi”. Setelah Paulus menjelaskan tentang Allah sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Pribadi yang dekat, ia menutup khotbahnya dengan sebuah pernyataan yang sangat mendalam tentang siapa manusia itu di hadapan Allah. Di ayat 28, Paulus berkata: “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada; seperti yang telah dikatakan juga oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini keturunan-Nya juga.” Suka tidak suka, fakta tak terbantahkan dalam Kebenaran Injil adalah bahwa hidup kita sejatinya menumpang pada hidup-Nya. Paulus menggunakan tiga kata kerja: Hidup, Bergerak, dan Ada. Kita tidak boleh melupakan bahwa kita hidup karena Dia yang memberikan nafas. Kita bergerak karena Dia yang memberikan energi dan kekuatan. Kita ada (eksis) karena Dia yang mempertahankan keberadaan kita. Ini adalah sebuah pengakuan bahwa tidak ada satu detik pun dalam hidup manusia yang terlepas dari Allah. Bahkan orang yang paling memusuhi Tuhan sekalipun, mereka bisa menarik nafas dan memarahi Tuhan hanya karena Tuhan masih meminjamkan nafas ke paru-paru mereka. Hidup kita adalah sebuah “pinjaman” yang harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pemilik. Perhatikan cara Paulus menutup argumennya. Ia tidak mengutip ayat dari Kitab Kejadian atau Mazmur (meskipun isinya selaras). Ia justru mengutip pujangga Yunani (Epimenides dan Aratus). Inilah teladan misi yang luar biasa. Paulus ingin menunjukkan bahwa kebenaran Allah itu universal. Ia masuk ke dalam sastra dan pemikiran orang Athena untuk menarik mereka keluar menuju Kristus. Misi yang membumi tidak takut berdialog dengan seni, film, sains, atau budaya. Kita tidak perlu menjadi “aneh” untuk menjadi suci. Kita justru masuk ke dalam dunia, menggunakan apa yang dunia pahami, untuk menunjukkan bahwa semua itu bermuara pada Yesus Kristus. Paulus mengutip: “Sebab kita ini keturunan-Nya juga.” Inilah jawaban atas krisis identitas manusia. Dunia mencoba mendefinisikan kita berdasarkan apa yang kita punya, apa yang kita kerjakan, atau apa kata orang tentang kita. Namun, Paulus menegaskan bahwa identitas kita yang paling dasar adalah: Kita adalah milik Allah. Misi kita kepada dunia adalah membantu orang lain menemukan identitas ini. Dunia sedang lelah mencoba menjadi “sesuatu”. Terang kita bersinar saat kita menunjukkan bahwa di dalam Kristus, kita sudah menjadi “sesuatu”—yaitu anak-anak Allah yang dikasihi. Sepanjang 7 hari ini, kita belajar dari Areopagus: Kita mengamati dengan kasih (Day 1). Kita membangun jembatan yang relevan (Day 2). Kita hadir di mana pun karena Tuhan melampaui tembok (Day 3). Kita memberi karena Tuhan adalah Sumber (Day 4). Kita menghargai budaya dan bangsa (Day 5). Kita memberitakan Tuhan yang jaraknya sedekat doa (Day 6). Dan kita merangkum semuanya dalam identitas di dalam Kristus (Day 7). Jadilah saksi yang membumi—yang menyentuh tanah, yang merangkul sesama, yang mengerti budaya—namun jangan pernah kehilangan terangmu. Tetaplah berakar pada Kristus, karena di dalam Dialah kita hidup, bergerak, dan ada. (Ant)
Bacaan Alkitab
Markus 4-5
