PERENCANAAN. PENTING?
Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu. “Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. (Yakobus 4:13-17)
Mungkin kita pernah mendengar (atau membaca) perkataan Benjamin Franklin yang paling terkenal tentang perencanaan yakni, “Jika Anda Gagal Merencanakan, Anda Berencana untuk Gagal”. Kutipan ini menekankan bahwa tanpa adanya rencana yang matang, seseorang secara tidak langsung sudah mempersiapkan diri untuk kegagalan, bukan keberhasilan. Seharusnya, pernyataan B. Franklin ini sudah menjawab tema perenungan kita pada hari ini – Perencanaan. Penting? Jawabannya ya PENTING.
Nats bacaan kita hari ini yang terambil dari Surat Yakobus acapkali dipakai untuk menjelaskan sebuah perencanaan, lalu kita mengontraskan antara ayat 13 dengan ayat 15 dan menyimpulkan bahwa ayat 15 “lebih merencanakan”. Padahal kalau kita mencoba mengaji 2 ayat tersebut, keduanya sama² memiliki unsur perencanaan. Bukankah perencanaan selalu terkait dengan masa akan datang, sehingga kedua ayat di atas menggunakan kata AKAN: ¹akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat keuntungan; ²akan hidup dan berbuat ini dan itu. Yang membedakan keduanya hanya satu, melibatkan TUHAN dalam perencanaan. Hal penting yang dapat kita renungkan dari ayat 15 tersebut sebagai berikut:
- Melibatkan TUHAN dalam perencanaan kita.
- Hanya TUHAN-lah yang mampu menjawab pernyataan & pertanyaan yang muncul di ayat 14 sebagai jembatan transisi ayat 13 ke 15. Siapa yang menguasai hari esok & memberikan makna hidup.
- Sebagai titik temu antara Human Responsibility (tanggung jawab manusia) yang merencanakan, dan GOD Sovereignty (Kedaulatan Allah) – dalam perkataan Jika TUHAN menghendakinya.
Dari poin² di atas justru menjadi penguatan bahwa perencanaan itu PENTING; tidak cukup hanya di situ – perencanaan boleh dikata juga sebagai ekspresi/ pernyataan iman kita karena senantiasa menghadirkan TUHAN di dalamnya.
Sudahkah kita menyertakan DIA dalam perencanaan kita? (JP)
Bacaan Alkitab
Mazmur 111-114
