MENJADI SAKSI MELALUI INTEGRITAS DAN PELAYANAN
Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.
(1 Petrus 2:12)
Lesslie Newbigin, seorang Teolog Inggris mengamati, “Injil tidak menjadi kebenaran yang diterima masyarakat umum ketika disebarluaskan sebagai sebuah teori, sebuah pandangan dunia, bahkan juga sebuah agama. Injil hanya dapat diterima sebagai kebenaran uumum sejauh Injil itu kelihatan jelas dalam sebuah komunitas (gereja) yang ‘tinggal dalam’ Kristus dan terlibat aktif dalam kehidupan dunia”. Setujukah Anda dengan pernyataan ini? By the way, Newbigin menulis sebagai sebuah kritikan terhadap kekristenan yang telah terpinggirkan ke ruang privat—urusan hati dan ibadah personal, tidak relevan untuk kehidupan public dan masyarakat—yang terjadi di gereja Barat (atau juga gereja kita, di masa kini?) Di tengah masyarakat urban yang pluralis dan skeptis, orang tidak percaya sesuatu karena bukti logis semata, tetapi karena hal itu ‘masuk akal’ (plausible) dalam struktur sosial mereka. Hal ini ditekankan dengan menarik oleh Sam Chan dalam bukunya yang sederhana tentang penginjilan ‘How to Talk about Jesus (without being that guy)’, di mana Sam Chan membukakan fakta menarik bahwa fakta, bukti dan data seringkali tidak menjadi pertimbangan utama untuk seseorang dapat percaya. Chan melanjutkan, komunitas lah yang menjadi senjata powerful untuk seseorang dapat percaya.
Petrus menulis kepada orang percaya yang hidup sebagai minoritas di masyarakat urban Kekaisaran Romawi. Petrus menyebut bahwa kesaksian mereka adalah “cara hidup yang baik”. Dampak terbesar gereja bagi kota seringkali bukan melalui kata-kata pertama, tetapi melalui integritas kolektif (kejujuran dalam bisnis, kesetiaan dalam keluarga, tanggung jawab sebagai warga) dan pelayanan praktis yang tulus. Di kota di mana iklan palsu dan pencitraan merajalela, konsistensi dan integritas menjadi asel langka dan berharga. Di kota di mana penampilan harus sempurna dan media sosial menjadi panggung performa, transparansi dan kerentanan memberikan kelegaan. Di kota yang penuh dengan tekanan, stress, kekecewaan, kegagalan dan ketidakadilan, pelukan kasih yang tulus tanpa pamrih menjadi begitu istimewa. Gereja bukan tempat yang didatangi, tapi komunitas yang dikirim di tengah kota yang rusak untuk membawa rekonsiliasi, pengharapan dan kebaikan yang mengubah.
Apakah komunitas kita dikenal sebagai orang-orang yang dapat dipercaya, jujur, dan suka menolong? Bagaimana kita bisa menunjukkan kebaikan praktis di lingkungan tempat kita bekerja dan tinggal—di lingkungan kota kita? (Dan)
Bacaan Alkitab
Yehezkiel 7-8
