KEKRISTENAN HARUS EKSKLUSIF

⁶Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, ⁷yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. ⁸Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. ⁹Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. ¹⁰Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
(Galatia 1)

Minggu (week) ini kita merenungkan tema (mingguan): Eksklusivitas yang Inklusif. Mungkin sepintas bagi kita istilah² ini sangat kontradiktif: “Eksklusif kok Inklusif? Eksklusif ya eksklusif – inklusif ya inklusif!” Tapi justru disitulah letak keistimewaan paradoks-nya. Kelihatan kontradiktif namun sesungguhnya tidak demikian, bahkan kita akan mendapati keselarasannya – dan tidak saling bertentangan & meniadakan. Ada sebutan yang mungkin pernah baca/dengan, bahwa kekristenan adalah sebuah keyakinan yang memiliki “2 (dua) wajah” – yang memadukan eksklusivitas & inklusivitasnya.

Bila kita merenungkan bacaan di atas, nampak jelas apa yang dimaksudkan oleh Paulus; bila kita mencoba membahasakan dengan konteks kekristenan & bergereja pada zaman ini, implikasi yang dapat kita temukan bahwa kekristenan bukan sekedar terkait: ¹Adanya para Pengikut, ²Adanya para Pengajar dan ³Adanya Pengajaran. Poin ke 3 inilah yang justru dipersoalkan oleh Paulus, yakni pengajaran apa dan bagaimana, dan bersumber kepada apa. Hal yang ingin ditegaskan oleh Paulus adalah terkait dengan Otoritas Injil/ Alkitab itu sendiri, sehingga Paulus dengan tegas menegur orang² Galatia karena begitu cepat beralih kepada injil yang lain (yang sebenarnya bukan Injil). Bahkan diidentikkan bila mengikuti injil lain sama halnya dengan meninggalkan DIA yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil mereka.

Otoritas Injil Kristus itu begitu luar biasa dan sangat dihormati oleh Paulus sebagai seorang rasul yang memberitakan Injil. Otoritas Injil tidak ditentukan oleh siapa yang memberitakan dan mengkhotbahkannya. Bahkan dalam tataran malaikat bila memberitakan injil yang berbeda (dengan Injil Kristus) maka terkutuklah ia. Tegas sekali pernyataan Paulus ini.

Injil Kristus, Injil yang berotoritas inilah yang menjadi sumber pengajaran kekristenan kita. Tidak bisa dibandingkan, disamakan bahkan digantikan oleh injil lain/ pengajaran lain. Sangat eksklusif bukan? YA – sangat eksklusif. Dalam hal ini secara pengajaran, tidak ada ruang tawar bagi kekristenan; eksklusivitas yang sangat hakiki. Paulus mengakhiri perikop ini dengan sebuah pernyataan yang keren. Pemberitaan Injil Kristus (bukan injil lain) selalu berorientasi untuk menyukakan Allah, bukan menyukakan manusia. Mari kita jadikan pernyataan Paulus ini sebagai komitmen kita; jangan pernah ragu & merasa bersalah tatkala kita harus memegang erat Eksklusivitas Kekristenan ini. (JP)

Bacaan Alkitab
Matius 10