PENDERITAAN MENGAJARKAN KITA: BAHWA DUNIA BUKANLAH TEMPAT TINGGAL AKHIR KITA
Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.
(2 Korintus 4:16-5:1)
Pernyataan Paulus dalam 2 Korintus 4 ini menegaskan kembali bahwa pencobaan, kesuliatan, penderitaan, dan berbagai pergumulan adalah realitas hidup yang harus kita hadapi. Kita harus menerima fakta bahwa manusia lahiriah kita, semakin hari akan semakin merosot. Bahkan lebih mendalam Paulus menegaskan, bahwa selama kita masih di dunia, kita akan mengalami berbagai penderitaan, kita akan mengeluh karena beban hidup yang begitu berat (2 Kor. 5:4), bahkan dalam surat Roma Paulus menyebut kita semua mengeluh dan mengalami berbagai penderitaan seperti sakit bersalin (Rm. 8:22).
Pertanyaannya: apakah Paulus melihat penderitaan dan beban hidup yang berat itu merupakan akhir dari segalanya? Jika Paulus melihatnya sebagai akhir dari segalanya, maka tidak perlu ia berjuang dan bekerja keras untuk Injil. Lebih baik berdiam diri, tidak perlu bekerja atau melakukan sesuatu. Sebab semuanya telah berakhir. Akan tetapi tidak demikian yang dilihat Paulus. Ia memahami bahwa dunia ini bukanlah tujuan akhir. Penderitaan demi penderitaan yang ia alami hanyalah sementara. Kepada jemaat Korintus Paulus berkata: pencobaan-pencobaan itu adalah pencobaan biasa, dan kepada jemaat di Roma Paulus berkata: penderitaan zaman ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan bagi kita (Rm. 8:18). Di dalam semuanya itu, Paulus yakin bahwa Tuhan sedang bekerja mempersiapkannya untuk sebuah tujuan akhir yang kekal dan mulia, yaitu sebuah tempat kediaman yang kekal di sorga (2 Kor. 5:5).
Paul David Tripp menggambarkan kehidupan kita seperti para peziarah dalam perjalanan rohani yang besar, hidup di dunia dengan tenda-tenda yang tidak nyaman dan sementara. Semua kesulitan dan kehilangan yang kita hadapi, dipakai oleh Allah untuk mempersiapkan kita bagi kediaman abadi kita. Allah bekerja melalui kesulitan untuk membuka genggaman dan melonggarkan hati kita dari apa yang kita cengkeram dengan erat di dunia ini. Untuk itu, Ia menggunakan penderitaan agar menghasilkan kedalaman dan kerinduan dalam hati kita akan tempat kediaman yang jauh lebih baik, yakni tempat kediaman abadi yang merupakan janji kasih karunia-Nya bagi kita.
Refleksi: Dalam penderitaan dan segala kesesakan kita, berlarilah, berlarilah, dan berlarilah kepada Sang Penghibur sejati, yang senantiasa bekerja mempersiapkan kita menuju tempat kediaman-Nya yang kekal dan mulia di sorga. (Mas Git)
Bacaan Alkitab
Pengkhotbah 7-9
