PANGGILAN UNTUK TETAP SETIA

“Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut ‘kedalaman-kedalaman Iblis’, kepadamu Aku berkata: Aku tidak mau menaruh beban lain ke atas kamu. Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang.”
(Wahyu 2:24–25)

Hari ini banyak orang Kristen berpindah gereja bukan karena masalah pengajaran, melainkan karena suasana. Ada yang merasa musiknya kurang sesuai selera, liturginya terlalu kaku, atau atmosfer persekutuannya kurang hangat. Alasan-alasan itu sering membuat jemaat berpindah tanpa benar-benar mempertimbangkan apakah Injil Kristus tetap diberitakan di gereja itu. Akibatnya, kesetiaan kepada kebenaran Injil sering digeser oleh kesetiaan pada suasana yang nyaman.

Masalah ini ternyata bukan hal baru. Jemaat Tiatira juga menghadapi godaan serupa: sebagian mengikuti ajaran palsu yang tampak rohani dan menyenangkan, tetapi menyesatkan. Namun, Yesus tidak hanya menegur mereka. Ia juga memberikan dorongan penuh kasih kepada jemaat yang tetap setia: “Apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang.”

Yesus menyebut ada “orang-orang lain di Tiatira” yang tidak mengikuti ajaran sesat. Artinya, tidak semua jemaat terseret dalam kompromi. Mereka inilah yang masih berpegang pada kebenaran. Yesus menyebut mereka tidak menyelidiki “kedalaman-kedalaman Iblis” suatu istilah sinis untuk menyebut ajaran palsu yang diklaim penuh rahasia rohani, padahal isinya adalah penyesatan. Kepada jemaat yang setia ini, Yesus berkata: “Aku tidak mau menaruh beban lain ke atas kamu.” Ungkapan ini mengingatkan pada Kisah Para Rasul 15:28, ketika para rasul menegaskan bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh beban hukum Taurat, tetapi oleh kasih karunia. Pesannya jelas: Yesus tidak menambah beban baru; yang Ia minta hanyalah kesetiaan kepada Injil. Kata-kata-Nya sederhana namun mendalam: “Apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang.” Dalam bahasa Yunani, kata “peganglah” (krateite) berarti menggenggam erat tanpa melepaskan. Jadi, Yesus tidak menyuruh jemaat mencari sesuatu yang baru, tetapi tetap setia menjaga apa yang sudah mereka miliki yaitu Injil Kristus yang sejati. Fokusnya bukan pada suasana, bukan pada kenyamanan, melainkan pada kesetiaan.

Pesan Yesus untuk Tiatira ini juga berlaku bagi kita. Di tengah banyaknya pilihan gereja, liturgi, atau gaya ibadah, pertanyaan terpenting bukanlah “apakah suasananya cocok untukku?” tetapi “apakah Injil Kristus diberitakan dengan benar, dan apakah aku setia berpegang pada-Nya?” Kita perlu memiliki sikap hati yang Setia pada Injil, bukan suasana. Gereja yang sejati bukan diukur dari atmosfer yang menyenangkan, melainkan dari kebenaran firman yang diberitakan. Jangan sampai selera pribadi lebih menentukan daripada Injil. Kita juga perlu berpegang teguh pada Injil. Yesus tidak memerintahkan kita mencari pengalaman rohani spektakuler, tetapi menjaga iman yang telah kita terima. Kesetiaan lebih penting daripada hal-hal yang terasa “wah.”, Terakhir, kita perlu selalu mengingat kedatangan Kristus. Yesus berkata, “sampai Aku datang.” Kesetiaan kita bukan hanya untuk hari ini, tetapi sampai akhir.

Doa: “Ya Tuhan, ajari aku untuk tetap setia kepada-Mu, bukan hanya ketika suasana menyenangkan, tetapi juga ketika keadaan sulit. Tolong aku berpegang teguh pada Injil-Mu sampai Engkau datang kembali. Amin.” (mpn)

Bacaan Alkitab
Ayub 4-6