RENCANA TANPA KERJA?

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk  mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?
(Lukas 14:28, 31)

Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.  Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu.
(Amsal 10:4-5)

Bacaan kita hari ini khususnya yang terambil dari Lukas 14 memang bicara dalam konteks hal mengikut Yesus dengan konsekuensi yang harus diterima & dihadapi, sehingga penting sekali untuk mempertimbangkannya. Namun saya ingin melihat jikalau penggambaran ini sungguh² terjadi dalam artian kita duduk, mempertimbangkan dan merencanakan langkah selanjutnya,  namun TIDAK MENGERJAKAN rencana tersebut – kira² apa yang terjadi? Pastinya, bangunan itu MANGKRAK (Jawa) dan menelan kekalahan dalam perang.

Sementara bacaan berikutnya,  Amsal 10 membicarakan tentang orang² yang menggunakan tangannya dengan rajin dan menggunakan akal budinya dengan penuh hikmat sehingga ia mendapatkan keberhasilan. Setidaknya dalam hal ini, kita bisa menyimpulkan bahwa keberhasilan membutuhkan 2 peranan yakni: bekerja dengan rajin dan mengerjakannya dengan penuh hikmat. Lebih jelasnya, kalau kita hanya bekerja, bekerja dan bekerja tetapi tidak menggunakan akal budi yang baik maka tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal; atau sebaliknya, kita memiliki akal budi & berhikmat namun enggan untuk mengerjakannya maka sama² tidak membuahkan hasil.

Kita sering menempatkan perencanaan sebagai faktor penentu sebuah keberhasilan; bahkan ketika menghadapi kegagalan kita segera menyimpulkan bahwa perencanaan-lah yang menjadi penyebabnya. Padahal ada kemungkinan, perencanaan tinggal perencanaan, namun tidak pernah ada langkah nyata untuk mewujudkannya, yakni mengerjakan perencanaan itu sendiri.

Apa akibat memiliki rencana tetapi tidak mau mengerjakannya, hasil Googling menyebutnya prokrastinasi, terjadinya penumpukan tugas, penurunan kualitas hasil kerja, peningkatan stres dan kecemasan, rasa bersalah dan tidak berdaya, kehilangan motivasi, dan kegagalan mencapai tujuan yang diinginkan. Perilaku ini membuat rencana yang sudah baik menjadi sia-sia karena tidak ada tindakan nyata yang diambil untuk mewujudkannya.  Serem juga ya?! Ya, tetapi memang demikian adanya.

Tentu kita tidak mau berada dalam kondisi demikian, jago dalam perencanaan namun malas untuk merealisasikan, maka seperti si bungkuk yang merindukan bulan. Mari, apa yang TUHAN percayakan dalam kehidupan kita: keluarga, pelayanan, pekerjaan dan aspek² lain harus kita isi dengan perencanaan yang  baik, bahkan melibatkan TUHAN,  dan jangan lupa KERJAKAN rencana kita.

TUHAN memberkati. (JP)

Bacaan Alkitab
Mazmur 123-125