HARMONI & SEIMBANG
⁵demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. ⁶Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. ⁷Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; ⁸jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.
(Roma 12)
⁴Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. ⁵Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. ⁶Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. ⁷Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. . . . . ¹²Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. . . . ¹⁴Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. . . . . ²⁰Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. . . . ²⁷Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.
(1 Korintus 12)
Inklusivitas & Eksklusivitas adalah 2 (dua) istilah yang acapkali melekat dengan kekristenan & kehidupan gereja. Dua hal yang tidak boleh/ tidak bisa dipilih; dua sifat, dua pendekatan, dua karakter bahkan dua “cara” melakoni panggilan-Nya dan dikerjakan secara seimbang. Hanya saja, dalam hal apa harus eksklusif dan dalam hal apa harus inklusif harus dirumuskan dengan tepat & tegas. Misal: Gereja harus eksklusif dalam menjaga kemurnian pengajaran/ doktrin (main doctrine) – Galatia 1:6-10. Kekristenan harus eksklusif dalam membangun nilai-nilainya – Roma 12:2. Namun di sisi lain, Gereja harus inklusif dalam memelihara kesatuan di tengah² keragaman; lebih terbuka terhadap perbedaan; gereja/ kekristenan lebih pintar, bijak dan hikmat untuk menempatkan dirinya di sebuah konteks kehidupan – 1 Korintus 9:19-22.
Dalam pendekatan Misiologi seharusnya muncul sebuah pertanyaan: “Mengapa TUHAN tidak menempatkan gereja-Nya secara eksklusif agar tidak tercemar oleh dunia?” Justru IA meletakkan gereja-Nya di tengah-tengah dunia untuk menjadi terang dan garam (Matius 5:13-16) Mungkinkah hal ini dikerjakan di luar inklusivitas-nya?
Mungkin kita telah mendengar sedikit jabaran dari 2 (dua) paragraf di atas melalui Mimbar Minggu, atau melalui perenungan² Gembala sebelumnya di Maret ini. Sebagaimana telah disebutkan dalam perenungan sebelumnya, bahwa kekristenan dianggap sebagai sebuah keyakinan yang memiliki 2 (dua) wajah dalam eksklusivitas & inklusivitasnya, maka sesungguhnya kedua hal itu harusnya seimbang. Kekuatan pemahaman dalam doktrin² yang diajarkan tidak akan pernah mendatangkan faedah bila hal tersebut dituangkan dan diaplikasikan dalam kehidupan se-hari², khususnya dalam mengerjakan panggilan hidup & agenda² TUHAN.
Panggilan-Nya ini harus dikerjakan oleh gereja TUHAN & setiap orang percaya di setiap lini kehidupan, dalam keragaman kepercayaan hidup yang TUHAN berikan bagi setiap kita. Setiap kita berada di keluarga yang berbeda, konteks masyarakat yang berbeda, pekerjaan yang berbeda, usia dan generasi yang berbeda, skill ketrampilan yang berbeda, passion pelayanan yang berbeda, dan lain²nya lagi – tetapi muaranya sama: untuk melakukan misi-Nya, memberitakan dan menyatakan kasih Allah. Keragaman inilah yang menggambarkan keharmonisan melakukan misi TUHAN. Bak sebuah orkestra dengan keragaman alat musik yang dimainkan, melahirkan sebuah alunan musik yang sangat indah. Kapan setiap alat musik itu dimainkan, seberapa cepat/lambat tempatnya, seberapa lembut/kuatnya dinamikanya, mengharuskan setiap pemusik bukan sekedar memperhatikan partiture-nya, tetapi harus memperhatikan dengan penuh simak, mata yang tertuju pada dirigennya. Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah Sang Dirigen Agung, yang memberikan conduct bagi setiap kota untuk melahirkan pelayanan yang harmonis.
Refleksi:
Mungkinkah disharmonis/ ketidak harmonisan/ ketidak selarasan antara sekian banyak pihak akan menimbulkan antitesis & kontra produktif dalam mengerjakan misi-Nya? (JP)
