TUHAN TIDAK DIAM
Ucapan ilahi dalam penglihatan nabi Habakuk. Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.
(Habakuk 1:1-3)
Penderitaan adalah bagian dari realita kehidupan yang tak terhindarkan. Mungkin kita akan bertanya, mengapa Tuhan izinkan hal ini terjadi? Bukankah Tuhan berdaulat atas hidup ini? Hal ini sama seperti Habakuk yang bertanya kepada Tuhan, “Berapa lama lagi, Tuhan aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong?” pertanyaan ini mengindikasikan bahwa peristiwa penindasan tersebut terjadi dalam waktu yang tidak sebentar. Bertahan dalam suasana dan kondisi menderita tidak mudah. Bagi mereka yang tidak dilanda derita, waktu terasa singkat dan terlalu cepat, tetapi bagi mereka yang mengalami penderitaan, waktu terasa berjalan lamban dan lama untuk dijalaninya.
Habakuk bertanya kepada Tuhan, tetapi pada akhirnya Sang Nabi menemukan jawabannya di dalam pribadi allah yang telah mengasihi umat-Nya, dan Habakuk menemukan keyakinan bahwa hidupnya adalah hidup karena iman kepada Allah. Habakuk bertanya kepada Allah, karena ia tidak ingin menciptakan jalan keluar berdasarkan perspektif dan caranya sendiri, melainkan berdasarkan perspektif dan cara Allah.
Setiap orang percaya memiliki pergumulan di hadapan Allah, khususnya ketika menghadapi berbagai penderitaan. Ketika seolah-olah Allah tidak bertindak atau tindakan dan jalan-jalan-Nya tidak bisa kita selami, Habakuk mengajak kepada kita untuk tetap percaya dan menaruh keyakinan penuh kepada Allah, bahwa Allah akan selalu menjawab semua doa kita sesuai dengan kehendak-Nya yang ajaib. Amin. (as)
Bacaan Alkitab
Yesaya 6-7
