KEKUATAN DALAM KELEMAHAN
“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”
(2 Korintus 12:10)
Terkadang kondisi kita sebelum dan sesudah di dalam Kristus tidak juga berubah. Terutama ketika kita melihat kelemahan yang kita miliki. Normalnya kita ingin kelemahan kita diangkat sewaktu perubahan identitas menjadi milik Kristus. Wajar saja ketika kita berpikir bahwa kemenangan Kristus akan membebaskan kita dari kelemahan kita.
Hal yang perlu kita sadari adalah Injil tidak selalu merestorasi apa yang terlihat seperti kelemahan dan kekurangan kita. Namun, Injil merubah cara berpikir kita melihat kelemahan kita. Kita tahu sekarang bahwa kelemahan kita sekarang adalah sebuah alat yang bisa Allah pakai untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Sehingga, kelemahan kita ibarat menjadi lampu sorot untuk kemuliaan Allah.
Di tengah dunia yang menganggap kelemahan sebagai sesuatu yang harus dihilangkan, Injil menunjukkan bagaimana kelemahan itu memberikan kekuatan supaya kemuliaan Kristus semakin terlihat.
Jika Kristus bisa mengubah salib yang hina menjadi mulia, apakah Dia tidak bisa menggunakan kehidupanmu untuk kemuliaan-Nya? -SFG
Bacaan Alkitab
Mazmur 43-45
