KEMENANGAN ATAS GODAAN KENIKMATAN
Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk di cobai iblis dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: jika engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.
(Matius 4:1-11)
Tidak bisa di pungkiri bahwa godaan kenikmatan dunia sering kali begitu memikat hati kita dan menjauhkan kita dari Tuhan. tidak ada yang kekal, termasuk kita yang telah percaya bahwa kita telah di merdekakan dalam Kristus pun juga tidak luput dari godaan-godaan ini seksualitas, materialitas, popularitas, dan sebagai berikut. Menjadi orang yang telah di menangkan tidak menjadikan kita hidup kita hidup selayaknya biarpun yang terpisah dari dunia dan tak tersentuh oleh semua godaan itu. Bagaimana Injil menolong kita untuk terus berproses dalam pengudusan progresif untuk hidup berkemenangan dari semua godaan itu? Apa yang membuat kita berbeda dengan mereka yang ada di luar kristus. Apakah kita pernah merasa mengalami kenikmatan atau godaan?
Hidup dalam dunia yang penuh godaan bukanlah perkara mudah, terlebih bagi kita yang telah mengaku percaya kepada Kristus. Kenikmatan dunia entah itu seksualitas, harta, status, atau pengakuan seringkali tampak begitu menggoda dan sulit dihindari. Bahkan mereka yang telah ditebus pun tidak luput dari tarikan kuat godaan-godaan ini. Namun, apakah berarti kita dibiarkan berjalan sendirian dalam pergumulan itu? Tidak. Injil justru hadir sebagai kekuatan dan kabar baik yang memampukan kita terus bertumbuh dalam proses pengudusan, hidup dalam kemenangan, dan memperlihatkan perbedaan kita sebagai orang yang ada “di dalam Kristus. Keinginan daging, mata, dan keangkuhan hidup bersumber dari dunia. Menjaga hati berarti tidak membiarkan diri terikat pada hal-hal duniawi yang bersifat sementara (1 Yoh. 2:15-16).
Hati yang terikat pada dunia cenderung mengabaikan kehendak Allah dan mencari kepuasan sesaat yang akhirnya membawa kehancuran rohani. Ketika hati kita terlalu mencintai dunia, kita mudah tergoda untuk menjauh dari Tuhan, menomorsatukan kepentingan pribadi, dan melupakan nilai-nilai kekal. Karena itu, menjaga hati bukan sekadar menolak godaan dari luar, tetapi juga mengendalikan keinginan di dalam diri, agar tetap fokus pada Allah. Menjaga hati adalah tindakan aktif dan terus-menerus, yang dilakukan dengan berdoa, merenungkan Firman, dan membangun hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan. -Edo
Bacaan Alkitab
Mazmur 48-50
