GO TELL IT ON THE MOUNTAIN
BEHIND THE SCENE

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
(1 Yohanes 4:10)

Napoleon Bonaparte (1769–1821) adalah seorang jenderal Revolusi Prancis. Ia adalah seorang yang jenius dalam hal militer dan seorang pekerja keras yang luar biasa. Ia mendobrak sistem aristokrasi lama, di mana jabatan tinggi dalam militer merupakan hak istimewa bagi kaum bangsawan.

Ia menegakkan meritokrasi militer, di mana jabatan militer diberikan kepada mereka yang berasal dari keluarga sederhana, yang memiliki prestasi. Mereka diberi gelar bangsawan yang baru, diberi tanah, kekayaan dan kehormatan, bahkan disebut ‘anak-anakku.’ Sikap Napoleon menunjukkan bagaimana ia mengasihi kaum yang dianggap rendah.

Namun, perlu diketahui bahwa Napoleon mengangkat para pejabat militer bukan hanya karena keberanian di medan perang, memiliki kecakapan taktis, tetapi karena mereka memiliki kesetiaan yang absolut kepada Napoleon. Jika mereka didapati tidak setia, mereka akan dicopot dari jabatannya, diasingkan, dan dipermalukan. Akhirnya meritokrasi yang ditegakkannya menjadi meritokrasi yang otoriter.

Kasih yang Bonaparte tunjukkan kepada masyarakat sederhana adalah kasih yang didasarkan pada prestasi yang telah dicapai seseorang, sehingga ia layak menerima kasih dan jabatan dari Bonaparte.

Bagaimana jika Allah bersikap yang sama kepada kita? Bagaimana jika Allah menuntut kita untuk mengasihi Dia lebih dahulu, jadi orang kudus dulu, baru Dia akan mengasihi kita?

Saya yakin tidak ada di antara kita yang mampu (karena Alkitab mengatakan “tidak ada seorang oun yang benar, seorang pun tidak). Untungnya Allah kita adalah Allah yang berinisiatif mengasihi kita lebih dulu. Yohanes mengatakan:

“Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita.”

Allah tidak hanya memberi perintah kepada umat-Nya untuk mengasihi Dia, tetapi Ia lebih dahulu mengasihi umat-Nya. Allah sangat memahami kondisi manusia tersebut, itu sebabnya Allah yang adalah kasih itu menyatakan kasih-Nya lebih dahulu kepada manusia melalui karya Kristus.

Dengan kasih Allah itulah Allah menggerakkan hati manusia untuk dapat mengasihi-Nya dan menunjukkan kasih itu kepada sesama. Itu adalah kasih yang tidak akan pernah sanggup kita bayar kembali kepada Allah. -VA

O love that will not let me go,
(O kasih yang tidak pernah membiarkanku pergi,)

I rest my weary soul in thee;
(Jiwaku yang lelah beristirahat di dalam-Mu;)

I give thee back the life I owe,
(Aku membayar kembali utang hidup kepada-Mu,)

That in thine ocean depths its flow
(Agar di kedalaman samudra-Mu alirannya)

May richer, fuller be.
(menjadi semakin kaya dan semakin penuh.)

-George Matheson-

Bacaan Alkitab
Yeremia 6-7