KEHILANGAN-KEHILANGAN DIMULAI
¹³Pada suatu hari, ketika anak²-nya yang lelaki dan yang perempuan makan² dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, ¹⁴datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: “Sedang lembu sapi membajak dan keledai² betina makan rumput di sebelahnya, ¹⁵datanglah orang² Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.” ¹⁶Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga². Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.” ¹⁷Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Orang² Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta² dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.” ¹⁸Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Anak² tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan² dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, ¹⁹maka tiba² angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang² muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”
(Ayub 1)
Perenungan hari ini saya akan mulai dengan sebuah kutipan dari materi bimbingan pranikah, sebagai berikut:
Kebutuhan primer bisa bermacam² tergantung pada keunikan dan kematangan pribadi orang tersebut. Menurut A. Maslow, kematangan pribadi seseorang menentukan kebutuhan primernya. Individu dengan kematangan pribadi tahap I (terendah) mempunyai kebutuhan primer physical, material. Berarti kebahagiaannya hanya diperoleh melalui pemenuhan kebutuhan kebendaan tersebut. Meskipun ia mempunyai suami yang baik, setia, dan penuh pengertian, ia tetap tidak berbahagia jikalau suaminya kurang rupawan (physical) dan penghasilannya cuma sedikit di atas rata-rata saja (sehingga ia tidak dapat membeli barang² mewah). Cintanya pada suaminya belum pribadi sifatnya, karena tergantung pemenuhan kebutuhan badani dan materi.
Mari kita gunakan penjelasan ini dalam kaitan hubungan kita dengan Allah, dalam kaitan kehidupan keimanan kita. Bukankah bisa terjadi bahwa hubungan kita dengan Allah dan iman kita teguh bila hal² yang terkait dengan materi & fisik itu terpenuhi (bahkan dilimpahkan). Bukankah itu pula yang dipikirkan oleh si iblis? Kalau materi & fisik Ayub diganggu maka akan menjatuhkan imannya, bahkan Ayub akan mengutuki Allah.
Iblis mulai melancarkan serangannya dengan mengambil apa yang menjadi kepunyaannya. Lembu sapi, keledai², kambing domba dan unta² habis ludes. Tidak cukup, anak² Ayub-pun diambil dari padanya. Proses kehilangan itu dimulai dan terjadi secara ber-tubi² – yang mungkin Ayub belum sempat mencerna & merespon berita pertama, sudah disusul dengan berita² berikutnya. Sangat gencar upaya iblis untuk menjatuhkannya.
Apakah kita bisa bayangkan kalau ternyata relasi iman Ayub terhadap Allah masih di tataran kematangan iman tahap I – seperti penjelasan kutipan di atas, dalam artian Ayub berkata TUHAN itu baik dan mengasihi kalau kebutuhan terkait material & fisik itu terpenuhi. Dapat dipastikan Ayub akan mengutuki Allah. Ayub akan menuruti keinginan/ perkataan istrinya.
Refleksi:
Bagaimana dengan masing² kita, pergumulan apa yang kira² bisa menggeser iman kita kepada TUHAN? Sadarkah kita level/ tahap iman seperti apa sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita melihat TUHAN – siapakah TUHAN itu bagi kita? Kalau TUHAN tidak memenuhi & memuaskan tahap tertentu itu – maka sangat besar kemungkinan kita akan meninggalkan-Nya (dan mengutuki-Nya). (jp)
Bacaan Alkitab
Yesaya 16
