DRIVEN BY HIS BIRTH
Ia telah ada di dalam dunia ini dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya.
(Yohanes 1:10-11)
… Kristus Yesus, yang walupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Filipi 2:5-7)
Train to Busan adalah sebuah film Korea yang menceritakan seorang manajer keuangan yang egois dan cenderung dingin terhadap keluarganya, Seok-woo. Untuk menepati janji kepada Soo-an, putrinya, ia mengajaknya naik kereta dari Seoul ke Busan untuk bertemu ibunya Soo-an. Ternyata pada saat itu ada wabah yang mengubah manusia menjadi zombie, dan ada seorang penumpang kereta yang sudah terinfeksi. Virus pun menyebar dengan cepat dalam kereta itu dan satu per satu para penumpang berubah menjadi zombie. Seok-woo berjuang melawan para zombie untuk menyelamatkan putrinya dan seorang wanita yang sedang hamil, Seong-kyeong. Seok-woo pun tergigit zombie ketika melindungi Soo-an dan Seong-kyeong. Ia tahu bahwa ia akan berubah menjadi zombie dan membahayakan putrinya dan Seong-kyeong. Setelah Soo-an dan Seong-kyeong berhasil masuk ke ruang lokomotif untuk dapat melanjutkan perjalanan ke Busan, Seok-woo mengunci diri di luar ruang lokomotif, lalu melompat keluar dari kereta. Pengorbanan Seok-woo menyelamatkan Soo-an dan Seong-kyeong.
Kita sangat mudah tersentuh dengan kisah-kisah seperti itu. Apakah kita juga mudah tersentuh dengan kisah pengorbanan Tuhan Yesus? Seharusnya pengorbanan Yesus jauh lebih menyentuh hati kita. Pengorbanan yang Yesus lakukan jauh melebihi dari semua pengorbanan yang pernah dilakukan manusia mana pun karena perngorbanan itu dilakukan oleh Allah Sang Pencipta yang Mahakuasa kepada manusia berdosa yang seharusnya dimurkai Allah. Ia berkorban dengan meninggalkan segala kemuliaan surga, menjadi manusia, bahkan mengambil rupa seorang hamba. Ia lahir dalam keadaan yang sangat sederhana. Ia juga bertumbuh di dalam keluarga yang sederhana. Tragisnya lagi, ketika Ia datang ke dunia, dunia tidak mengenal-Nya, bahkan Ia ditolak oleh umat-Nya. Namun, di dalam penolakan tersebut, Yesus tetap setia menjalankan misi-Nya. Ia telah merendahkan diri-Nya untuk taat kepada Bapa sampai mati di kayu salib. Seharusnya kasih Allah tidak hanya menyentuh hati kita, tetapi menggetarkan hati kita. Di Hari Natal ini kiranya kelahiran Kristus senantiasa menggetarkan kita dan menggerakkan kita untuk semakin mengasihi dan menyembah Allah serta mengasihi sesama kita sebagaimana yang dituliskan Christina Rosetti dalam bait kedua dari puisi “Love Came Down at Christmas.” -VA
Worship we the Godhead,
(Kita menyembah Allah,)
Love incarnate, Love divine;
(Kasih yang menjelma, Kasih ilahi;)
worship we our Jesus,
(kita menyembah Yesus kita,)
but wherewith for sacred sign?
(tetapi dengan tanda kudus apakah?)
-Christina Georgina Rossetti-
Bacaan Alkitab
Yeremia 17
