YESUS TIDAK PERNAH SELESAI MENGAJAR
“Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.”
(Kisah Para Rasul 1:3)
Bagian Firman Tuhan yang mencatat “Setelah penderitaan-Nya selesai…” itu menunjukkan salib sudah terjadi, dosa sudah ditanggung, kematian sudah dikalahkan. Kalau kita berpikir secara logika manusia, ini adalah titik akhir/misi selesai. Tetapi menariknya, justru di titik itu Yesus memulai sesuatu yang banyak orang tidak perhatikan yaitu Ia mengajar lagi. Empat puluh hari, bukan satu kali, bukan satu pertemuan, tetapi berulang-ulang. Ini sesuatu yang penting. Ini bukan pengajaran sambil lalu tetapi proses yang dilakukan dengan sengaja dan berkelanjutan. Yesus seperti seorang guru yang sabar mengulang materi sampai murid benar-benar mengerti. Pertanyaannya adalah mengapa Yesus melakukan demikian? Kalau dipikir-pikir, ini cukup mengejutkan. Murid-murid ini bukan orang baru. Mereka sudah berjalan bersama Yesus, mendengar pengajaran-Nya, bahkan menyaksikan banyak mujizat. Tetapi ternyata ironisnya itu belum cukup membuat mereka benar-benar mengerti. Mereka punya fakta, tetapi belum punya kerangka untuk memahami fakta itu. Di titik ini kita melihat sesuatu yang sangat penting, Revelasi (penyataan atau pengungkapan) Allah yang sudah dinyatakan dalam Alkitab hanya dapat dimengerti dengan benar ketika Kristus sendiri, melalui Roh-Nya, membuka pengertian manusia. Tanpa Kristus yang mengajar, manusia akan selalu salah membaca karya Allah. Bahkan hal sebesar kebangkitan pun bisa disalahpahami. Jika kita boleh jujur, bukankah hal ini sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Kita hidup di zaman di mana akses rohani begitu melimpah. Khotbah, podcast, renungan, semuanya ada. Kita bisa tahu banyak hal tentang iman tanpa benar-benar mengerti Kristus itu sendiri. Pertanyaannya adalah apakah kita selama ini sungguh mengerti Kristus atau hanya mengumpulkan informasi tentang Dia? Karena itu dua hal yang sangat berbeda. Seseorang bisa tahu Injil dengan cukup baik bahkan mampu menjelaskannya kepada orang lain, tetapi di saat yang sama hidupnya masih dikendalikan oleh dirinya sendiri. Seseorang bisa berbicara tentang Yesus tetapi tidak sungguh hidup di bawah pemerintahan-Nya. Mengapa demikian? Karena belum sungguh diajar oleh Kristus. Saat ini mari perhatikan isi pengajaran Yesus tentang Kerajaan Allah. Ini bukan topik acak. Dalam seluruh Alkitab, Kerajaan Allah adalah realitas di mana Allah memerintah secara mutlak melalui Mesias. Artinya, ketika Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah setelah kebangkitan-Nya, Ia sedang mengatakan bahwa “Sekarang kamu harus melihat salib dan kebangkitan itu dalam satu terang: Aku adalah Raja.” Jadi pengajaran itu bukan sekadar penjelasan tetapi penuntutan. Kalau Ia Raja, maka hidup tidak lagi milik kita. Kalau Ia memerintah, maka tidak ada area netral dalam hidup kita. Di titik ini seringkali kita mundur. Kita mau Yesus sebagai Juruselamat yang mengampuni, tapi tidak sungguh mau Yesus sebagai Raja yang memerintah. Kita mau diselamatkan tapi tidak mau dibentuk. Kita mau dihibur tapi tidak mau dikoreksi. Padahal Yesus yang bangkit tidak hanya menenangkan murid-murid-Nya. Ia mengajar mereka sampai cara berpikir mereka diubah.
Bukankah ini menjadi cermin yang jujur bagi kita saat ini. Mungkin kita tidak kekurangan firman tetapi kita kekurangan kerendahan hati untuk terus diajar. Ada titik di mana seseorang berhenti bertumbuh bukan karena Tuhan berhenti berbicara, tetapi karena ia merasa sudah tahu. Dan itu berbahaya. Karena saat kita berhenti diajar oleh Kristus, kita mulai membentuk “kebenaran” versi kita sendiri, Yesus yang sesuai selera kita, bukan Yesus yang menyatakan diri-Nya dalam Alkitab. Jadi saat ini mungkin yang kita butuhkan bukan tentang mencari hal yang baru tetapi tentang kembali duduk dengan hati yang lebih rendah, di bawah Firman yang sama, dan memberi ruang bagi Kristus untuk mengajar kita dengan cara yang belum pernah kita alami sebelumnya. Karena iman yang sejati tidak terlihat dari seberapa banyak yang kita tahu, tetapi dari seberapa dalam kita masih mau dibentuk.
Doa: Tuhan Yesus, tolong hancurkan kesombongan hatiku yang merasa sudah cukup mengerti. Tolong tarik aku kembali untuk hidup sebagai muridmu yang terus mau diajar dan tunduk pada pemerintahan-Mu. Amin. (mpn)
Bacaan Alkitab
1 Tesalonika
