SIAPA YANG YANG LEBIH TINGGI?
Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. (Yohanes 13:16-17, TB2)
Setelah membasuh kaki para murid-Nya dan meminta para murid meneladani-Nya, Tuhan Yesus mengatakan, “Seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengutusnya.” Di dalam tatanan kehidupan masyarakat tentu saja ini adalah hal yang jelas. Seorang pekerja secara status tidak akan pernah lebih tinggi daripada majikannya. Namun, ada yang menarik dari perkataan Tuhan Yesus ini. Ketika Ia mengatakan kalimat tersebut, sebagai seorang yang disebut sebagai Guru dan Tuhan oleh para murid-Nya, Ia telah membawa diri-Nya ke posisi pelayan (posisi yang rendah). Itu berarti tidak ada celah bagi para murid untuk bisa meninggikan diri/membesarkan diri mereka, karena Sang Guru dan Tuhan mereka telah merendahkan diri-Nya ke posisi hamba.
Kalau kita kembali melihat pelayanan Tuhan Yesus di dunia, Ia selalu memberikan waktu dan tenaganya untuk melayani orang-orang yang datang kepada-Nya. Ia mengajar mereka, menyembuhkan mereka dari penyakit, memberi makan mereka yang kelaparan. Tidak jarang di tengah-tengah keletihan-Nya, Ia masih harus melayani orang yang datang kepada-Nya. Itulah yang telah yang telah disaksikan oleh para murid-Nya yang pada waktu sedang makan bersama dengan-Nya. Maka, peristiwa mencuci kaki para murid bukan hanya sekadar ritual yang Ia tunjukkan. Ia telah menunjukkan totalitas pelayanan-Nya kepada para murid-Nya.
Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa Tuhan tidak menginginkan kita para murid-Nya menjadi pelayan-Nya yang memiliki mentalitas superioritas. Seseorang yang memiliki mentalitas superioritas merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Tuhan Yesus mau agar kita memiliki kerendahan hati sebagai karakter dan kerelaan untuk melayani sebagai gaya hidup kita. Jika Sang Guru dan Tuhan yang agung itu telah merendahkan diri-Nya untuk melayani, masakan kita yang adalah hamba-Nya masih mau meninggikan diri? Ingatlah, bahwa kita yang adalah para hamba-Nya, tidak akan pernah lebih tinggi daripada Dia yang telah merendahkan diri-Nya. -VA
‘Ku mau serupa, Tuhan yang rahmat, lemah dan lembut, penuh kasih,
tolong yang lemah, hibur yang susah, dan bawa m’reka pada Kristus.
(Thomas O. Chisholm)
Bacaan Alkitab
Zakharia 12-14
