DEKAT DENGAN YESUS, TAPI TETAP TIDAK MENGERTI

Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.”
(Yohanes 20:9)

Sesuatu yang menyayat hati adalah ketika membaca kalimat: “Mereka belum mengerti…” padahal mereka bukan orang jauh dan bukan orang yang baru dengar tentang Yesus. Mereka adalah murid yang hidup bersama dengan Dia. Tetapi Alkitab tetap jujur mengatakan bahwa mereka belum mengerti sepenuhnya. Ini bukan sekedar kekurangan informasi. Ini masalah yang lebih dalam.

Yohanes menunjukkan bahwa ketidakmengertian mereka bukan karena Kitab Suci tidak jelas, tetapi karena mereka belum melihat Kitab Suci dalam terang Kristus yang bangkit. Selama Yesus belum menyingkapkan diri-Nya, semua yang mereka dengar sebelumnya belum terhubung dengan benar. Hal ini membawa kita pada satu fakta bahwa “Kitab Suci tanpa Kristus yang disingkapkan akan selalu disalahpahami”.

Menariknya, hal ini bukan hanya masalah yang terjadi pada murid-murid saat itu. Ini sesuatu yang relevan pada kita saat ini. Kita bisa membaca Alkitab, mendengar banyak perenungan, bahkan mengajar orang lain, tetapi tetap tidak sungguh mengerti karena Kristus bukan pusat dari semua yang kita pahami. Di sinilah letak bahayanya. Kita bisa menjadi sangat “rohani” secara aktivitas, tetapi kosong secara pengertian. Kita tahu cerita tentang salib, tentang kebangkitan, tentang kasih Tuhan, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat bahwa semuanya menunjuk pada satu Pribadi yaitu Yesus Kristus sebagai pusat keselamatan. Akibatnya, iman yang kita miliki perlahan berubah menjadi sebuah moralitas tanpa adanya Injil, atau sebuah aktivitas tanpa adanya relasi dengan Allah, dan sebuah pengetahuan tanpa adanya transformasi. Bahaya ini semakin dalam karena hal demikian sering tidak disadari. Dari luar semuanya tampak benar, tetapi di dalam kita mungkin masih mengandalkan diri sendiri, masih hidup dalam ketakutan, masih mencari identitas di luar Kristus. Pertanyaannya, mengapa demikian? Jawabannya adalah karena kita belum benar-benar “mengerti” Injil.

Mengerti di sini bukan sekadar tahu secara kognitif, tetapi melihat dengan mata rohani bahwa kematian Kristus adalah untuk dosaku, kebangkitan-Nya adalah jaminan hidupku, dan hidupku sekarang ada di bawah pemerintahan-Nya. Tanpa itu, semua aktivitas rohani hanya menjadi rutinitas. Bukankah bagian Firman Tuhan ini seperti cermin bagi kita saat ini? Seseorang bisa sangat dekat dengan Yesus secara aktivitas, tetapi tetap jauh dalam pengertian. Dan ini adalah hal yang paling berbahaya. Karena orang yang merasa dekat biasanya tidak merasa perlu berubah.

Hari ini, pertanyaannya menjadi sangat pribadi: “apakah aku sungguh mengenal Kristus atau hanya terbiasa dengan hal-hal tentang Kristus?” Kadang yang paling berbahaya bukan saat kita jauh, tetapi saat kita merasa sudah dekat padahal kita belum sungguh melihat Dia dengan benar. Kita sudah terbiasa dengar nama-Nya, terbiasa dengan firman-Nya, bahkan terbiasa melayani, tetapi hati kita belum pernah benar-benar berhenti dan bertanya: “apakah aku benar-benar hidup oleh Dia, atau masih dari diriku sendiri?” Karena sesungguhnya kedekatan yang sejati bukan diukur dari seberapa sering kita mendengar tentang Dia, tetapi dari seberapa dalam hidup kita benar-benar berpusat pada Dia,Yesus Kristus, Sang Guru Agung.

Doa: Tuhan Yesus yang penuh kasih, ampuni aku yang masih seringkali gagal mengerti tentang Engkau. Ajarku melihat Engkau dengan benar sebagai pusat dari seluruh kebenaran dalam hidupku. Amin. (mpn)

Bacaan Alkitab
2 Tesalonika