LEBIH DARI SEKADAR TINGGAL SERUMAH
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
(Ulangan 6:4-5)
Salah satu ironi terbesar dalam kehidupan keluarga masa kini adalah banyak keluarga yang tinggal dalam satu rumah, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup bersama. Mereka berbagi alamat yang sama, meja makan yang sama, bahkan mungkin ruang keluarga yang sama, tetapi hati mereka saling berjauhan. Percakapan digantikan oleh layar, perhatian digantikan oleh kesibukan, dan kebersamaan perlahan berubah menjadi sekadar keberadaan fisik. Karena itulah menarik bahwa ketika Musa berbicara mengenai kehidupan keluarga umat Allah, ia tidak memulai dengan aturan-aturan praktis, melainkan dengan sebuah pengakuan iman yang sangat mendasar “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Ayat ini dikenal sebagai Shema, sebuah pengakuan iman yang diucapkan bangsa Israel setiap hari. Sebelum berbicara tentang hubungan dengan sesama anggota keluarga, Tuhan terlebih dahulu mengarahkan perhatian umat-Nya kepada hubungan mereka dengan Dia. Mengapa? Karena kualitas hubungan kita dengan Tuhan akan sangat mempengaruhi kualitas hubungan kita dengan orang lain.
Perintah selanjutnya adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Kata “segenap” menunjukkan totalitas. Tuhan tidak menghendaki kasih yang setengah-setengah atau hanya menjadi bagian kecil dari hidup kita. Ia menghendaki seluruh keberadaan kita. Lalu apa kaitannya dengan kebersamaan dalam keluarga? Keluarga yang sehat tidak dibangun terutama oleh kesamaan hobi, kesamaan karakter, atau kesamaan minat. Semua itu dapat membantu, tetapi bukan fondasi utama. Fondasi sejati sebuah keluarga Kristen adalah ketika setiap anggotanya memiliki kasih yang sama kepada Tuhan. Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, seharusnya semakin mampu ia mengasihi orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitarnya, termasuk keluarganya.
Sering kali kita berpikir bahwa masalah dalam keluarga semata-mata adalah masalah komunikasi atau perbedaan karakter. Padahal akar yang lebih dalam sering kali adalah masalah hati. Ketika hati menjauh dari Tuhan, kasih menjadi dingin, kesabaran berkurang, pengampunan menjadi sulit, dan keegoisan semakin menguasai. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi kasih kepada Tuhan, Roh Kudus memampukan kita untuk mengasihi, melayani, dan menerima anggota keluarga sebagaimana Kristus telah menerima kita.
Perhatikan pula ayat 6 “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan.” Sebelum Firman Tuhan diajarkan kepada anak-anak dan anggota keluarga lainnya, Firman itu harus terlebih dahulu tinggal dalam hati kita. Tidak mungkin seseorang membangun keluarga yang berpusat pada Tuhan jika hidupnya sendiri tidak berpusat pada Tuhan. Kebersamaan yang sejati selalu dimulai dari hati yang terlebih dahulu ditaklukkan oleh Firman Allah.
Sebagai keluarga Mesianik, kita dipanggil bukan hanya untuk tinggal bersama, tetapi untuk bertumbuh bersama di dalam Tuhan. Kebersamaan yang Tuhan kehendaki bukan sekadar kehadiran fisik, melainkan kesatuan hati yang berakar pada kasih kepada-Nya. Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah saya hanya tinggal bersama keluarga saya, ataukah saya sungguh-sungguh hidup bersama mereka dalam kasih Kristus?
Doa Bapa di surga, ajarlah kami untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kami. Bentuklah hati kami melalui Firman-Mu sehingga kami dapat mengasihi keluarga yang Engkau percayakan kepada kami. Amin. -Van
Bacaan Alkitab
Bilangan 7
