KUASA ALLAH DALAM KETIDAKBERDAYAAN KITA
Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.
(Wahyu 3:8b)
Salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan namun juga sangat menguras emosi di saat yang sama, adalah membuat kue (baking) bersama anak-anak—saya tidak merujuk pada anak remaja/pemuda, namun secara khusus anak sepuluh tahun ke bawah. Jika Anda memiliki anak-anak dengan usia itu di rumah Anda, Anda tahu apa yang saya maksudkan. Kita memulai dengan sebuah antusias mengajak mereka membuat kue kesukaan mereka—dan tentunya mereka tidak kalah antusiasnya untuk bergabung bersama kita di dapur. Tahap pertama cukup seru, namun dalam sekian menit kemudian kita menyadari ada yang tidak beres—tepung berhamburan, susu tumpah ke lantai, jari-jari yang tadinya sudah dicuci bersih kini mulai mencolek lelehan coklat, sedetik kemudian mereka menjilati jari-jari itu sebelum memegang adonan dengan jari yang sama!—dan kekacauan terus berlanjut. Beberapa orang tua mungkin akan langsung menyesali keputusaan mereka hari itu, namun mereka yang ‘sudah dijamah hatinya dengan kesabaran Kristus’ tahu bahwa itu lah proses pembelajaran yang anak-anak kita perlukan. Kita akan melihat mulut dan bibir yang belepotan coklat itu bukan dengan panasnya amarah, namun dengan senyuman hangat, karena kita tahu kita tidak sedang membutuhkan seorang asisten chef professional di dapur kita—kita menginginkan seorang anak yang bertumbuh dan belajar sesuai tahap kemampuan mereka. Kue itu akan tetap jadi—bukan karena skill anak-anak itu—tapi karena kita, orang tuanya, yang membereskan kekacauan dan ‘menutupi’ kelemahan mereka.
Sama seperti itu, Tuhan tahu bahwa kekuatan jemaat Filadelfia ‘tidak seberapa’. Mungkin bisa dikatakan ‘lemah’. Namun, justru dalam kelemahan itulah kesetiaan mereka bersinar. Di tengah banyaknya tantangan dan hiruk pikuk ajaran di sekitar kita, mungkin kita merasa ‘kecil’, tidak terlalu paham doktrin, tidak kuat menghafal ayat, tidak punya kemampuan apologetika yang mumpuni, dll, namun Tuhan tidak memerlukan kemampuan, kekuatan apalagi kesempurnaan kita. Yang ingin Dia lihat adalah kesediaan serta ketaatan kita. Jangan biarkan perasaan tidak mampu, tidak pandai, atau tidak layak menghentikan kita untuk taat dan setia. Ketika kita merasa paling lemah, saat itulah kuasa Tuhan dapat dinyatakan dengan sempurna (2 Korintus 12:9). (dan)
Bacaan Alkitab
Ayub 35-37
