RESPON DAN ATAU REAKSI
²⁰Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, ²¹katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” ²²Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
(Ayub 1)
⁷Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya. ⁸Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk meng-garuk² badannya, sambil duduk di tengah² abu. ⁹Maka berkatalah istrinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” ¹⁰Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
(Ayub 2)
Mungkin kita membayangkan bagaimana reaksi yang terjadi pada Ayub tatkala mendengar dan mengalami pergumulan² yang menyengsarakan hatinya ini. Apakah Ayub sudah siap dengan berbagai berita yang akan dia dengar? Saya tergelitik untuk mencari makna antar reaksi dengan respon, apakah maknanya sama? Hasil Googling sebagai berikut:
Tidak, respons dan reaksi tidak sama, meskipun seringkali dianggap serupa. Perbedaan utamanya adalah waktu dan kesadaran: reaksi adalah tindakan spontan dan cepat yang didorong oleh emosi atau naluri, sedangkan respons adalah tanggapan yang lebih lambat, terukur, dan bijaksana yang melibatkan pemikiran dan pertimbangan.
Kita akan mulai dari Ayub dengan reaksi mengoyak jubah – yang berarti ungkapan kesedihan, dukacita, dan ratapan yang mendalam atas kehilangan yang luar biasa. Tindakan ini merupakan tanda dukacita yang lazim di zaman kuno, menyiratkan kehancuran batin yang dalam. Tanda kesedihan yang luar biasa: merobek jubah, mencukur kepala, dan menaburkan debu di kepala adalah tindakan yang umum dilakukan untuk mengekspresikan kesedihan yang tak tertahankan. Ayub melakukannya setelah mendengar berita kehilangan semua anaknya dan hartanya. Simbol kesedihan hati: Tindakan tersebut menyimbolkan hati yang hancur dan tercabik-cabik karena kepedihan yang mendalam.
Tidak berhenti sampai di sini, Ayub menyerahan diri dalam penyembahan. Meskipun dalam kesedihan mendalam, Ayub sujud menyembah, ia tetap mengakui bahwa Tuhan yang memberi dan mengambil, dan ia tidak menuduh Tuhan berbuat salah.
Lalu bagaimana dengan istrinya? Yang jelas, si istri berharap sang suami tidak perlu bertekun dalam iman kesalehan hidup dan kutuki saja Allah dan mati. Apakah perkataan si istri ini berangkat dari rasa sayang dan ketidaktegaan melihat kondisi suami yang sengsara dan sangat menderita yang se-akan² nyawa-nya hampir putus? Atau keluar dari kedangkalan iman dan pengenalan akan Allah, dan rasa takut akan Allah yang masih tipis? Tetapi itulah yang keluar dari istri Ayub.
Mengacu pada hasil Googling, apakah kita akan mengkategorikan apakah tanggapan Ayub & istrinya sebagai sebuah reaksi dengan spontanitas-nya, atau sebuah respon yang muncul dengan sebuah kesadaran dan melibatkan segenap pemikiran & pertimbangan? Tetapi setidaknya (mungkin) dapat disimpulkan bahwa integrasi iman dan kehidupan yang semakin dalam dan melekat akan semakin sulit membedakan antara reaksi & respon; iman seakan sudah mendarah-daging yang mempengaruhi seluruh sistem reaksi. Di situlah letak perbedaan yang jelas dalam diri Ayub & istrinya. Alkitab mencatat kualitas reaksi/respon Ayub sebagai berikut:
- ²²Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
- ¹⁰Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya
Refleksi:
Pernahkah kita mengalami sesuatu yang tak terduga, khususnya hal² yang tidak kita harapkan? Bagaimanakah kita menanggapinya/ bereaksi? Pernahkah kita menyadari bahwa iman dan pengenalan kita akan TUHAN menghadirkan kontribusi dalam tanggapan itu? Reaksi atau respon? Atau, reaksi yang sekaligus respon? (jp)
Bacaan Alkitab
Yesaya 19-20
