TETAP BERPEGANG ERAT, MESKI DALAM KELEMAHAN
Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku …
(Wahyu 3:8b)
Bayangkan kita sedang mendaki di sebuah gunung yang terjal. Kaki kita berusaha mencari pijakan yang kuat, namun seringkali tergelincir karena pasir dan kerikil. Hembusan angin kencang menambah tantangan untuk sampai di puncak. Tanpa terduga, tanah tempat kita berpijak runtuh dan kita tergelincir masuk ke jurang. Di tengah kepanikan, kita berusaha meraih apa pun yang bisa kita jadikan pegangan—rumput kering, dahan kecil—semuanya percuma karena tidak cukup kuat. Hingga akhirnya kita bisa meraih sebuah cabang pohon yang kuat. Kita pegang erat cabang itu, bergantung penuh pada kekuatannya untuk menopang berat tubuh kita.
Firman Tuhan seperti cabang pohon yang kuat itu. Di tengah banyaknya tantangan dan angin pengajaran yang menerpa kita dari berbagai arah, kita perlu mencari pegangan yang kuat, yang mampu menopang kita untuk tidak terjatuh. Objek pegangan ini begitu penting dan krusial—jika kita salah memilih pegangan, maka kita akan jatuh. Seorang mengatakan, “Yang terpenting bukan iman yang besar, tapi iman yang benar. Yang menyelamatkan kita bukan seberapa besar iman kita, namun seberapa kuat objek yang kepadanya kita berpegang”. Seberapa pun besarnya keyakinan kita pada sebuah rumput kering, tetap rumput itu tidak dapat menopang tubuh kita. Sebaliknya, sekalipun kita masih memiliki keraguan, namun jika kita tetap berpegang pada cabang pohon yang kokoh itu, maka kita akan selamat.
Di tengah ‘kekuatan yang tidak seberapa’ yang mereka punya, Jemaat Filadelfia mendapat pujian dari Allah. Pujian itu diberikan karena ketaatan mereka pada Firman Tuhan. Di tengah dunia yang menawarkan berbagai kebenaran relatif, mereka berpegang teguh pada kebenaran absolut dari Firman Allah. Itulah yang menopang mereka hingga bisa tetap bertahan sampai akhir. Bagaimana dengan kita saat ini? Seberapa besar komitmen kita untuk berpegang erat—membaca, merenungkan, dan melakukan Firman Tuhan setiap hari? Kesetiaan pada Firman Tuhan adalah benteng kita melawan penyesatan dan kompas bagi kehidupan. Kesetiaan pada Firman Tuhan adalah cabang penopang yang kokoh yang menjaga kita agar kita terjatuh. (dan)
Bacaan Alkitab
Ayub 38-39
