KESELARASAN DALAM ‘RUANG TUNGGU’ TUHAN

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.
(Kisah Para Rasul 13:1-3)

Pernahkah Anda melihat sebuah orkestra yang sedang menyetem alat musik mereka? Masing-masing musisi memainkan nada yang berbeda, terdengar sumbang dan tidak karuan. Namun, ketika konduktor datang dan memberikan satu nada standar, semua musisi mulai menyelaraskan alat musik mereka pada nada yang sama. Proses ini tidak terlihat glamor, bahkan cenderung membosankan. Tapi dari keheningan dan penyelarasan itulah, sebuah simfoni yang indah dan dahsyat bisa lahir.

Jemaat di Antiokhia sedang berada dalam “ruang tunggu” Tuhan. Mereka beribadah dan berpuasa, sebuah aktivitas yang mungkin dinilai tidak produktif di mata dunia. Di tengah jemaat, ada keberagaman latar belakang: Barnabas (orang Lewi dari Siprus), Simeon (orang kulit hitam dari Afrika), Lukius (dari Kirene), Menahem (bangsawan yang dekat dengan istana Herodes), dan Saulus (mantan seorang Farisi yang kejam). Kelima pemimpin ini sangat berbeda! Secara alami, perbedaan ini bisa memicu perdebatan tentang arah pelayanan. Namun, mereka tidak sibuk dengan agenda masing-masing. Mereka memilih untuk selaras terlebih dahulu dengan Tuhan melalui doa dan puasa. Karena keselarasan vertikal dengan Tuhan inilah, mereka kemudian bisa mendengar suara Roh Kudus dengan jelas dan memiliki satu hati, satu visi: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku.”

Kesatuan hati tidak datang dari keseragaman pendapat, tetapi dari kesamaan fokus kepada Tuhan. Kunci Gereja yang selaras adalah “beribadah kepada Tuhan dan berpuasa” (ayat 2). Saat gereja meletakkan agenda pribadi dan perbedaan di bawah kaki Tuhan, Roh Kudus diberikan ruang untuk berbicara. Hasil dari keselarasan itu bukanlah stagnasi, tetapi sebuah perintah untuk bergerak: mengutus dua orang terbaik mereka untuk misi yang berbahaya.

Gereja masa kini sering kali terlalu sibuk dengan program dan aktivitasnya sendiri sehingga “bising” di telinga rohani. Kita perlu belajar dari jemaat Antiokhia untuk kembali menyediakan waktu hening, berdoa dan berpuasa bersama. Sebelum merencanakan program kerja raksasa, marilah kita sebagai warga gereja belajar untuk duduk bersama, melupakan sejenak perbedaan preferensi ibadah atau latar belakang kita, dan meminta Tuhan menyelaraskan hati kita dengan hati-Nya. Hanya dari ruang doa yang harmonis inilah lahir gerakan-gerakan Allah yang dahsyat, bukan gerakan manusia. -Dan

Bacaan Alkitab
Lukas 18